KAI Commuter Kembalikan 1.065 Perjalanan KRL Bogor Line Mulai 21 September

KAI Commuter Kembalikan 1.065 Perjalanan KRL Bogor Line Mulai 21 September
KAI Commuter Kembalikan 1.065 Perjalanan KRL Bogor Line Mulai 21 September

BULETINFINANSIAL.COM — PT KAI Commuter menambah 4 jadwal perjalanan KRL lintas Bogor mulai Senin, 21 September 2026, setelah satu rangkaian kereta iE305 (seri CLI-225) selesai menjalani general check up di INKA. Penambahan ini mengembalikan frekuensi operasional seluruh lintas ke level normal 1.065 perjalanan per hari, dari sebelumnya 1.061 perjalanan sejak 10 September.

Lintas Bogor mencatat lebih dari 492 ribu penumpang per hari sebelum pemeliharaan kereta dimulai. Selama masa perawatan, volume penumpang harian merosot hingga 10,6 persen ke rata-rata 440 ribu orang per hari.

Angkutan Berangsur Pulih

Rekayasa pola operasi yang dijalankan KAI Commuter bersama selesainya perawatan satu rangkaian membuat volume angkutan berangsur naik ke 454 ribu penumpang. Targetnya, angka itu kembali optimal seiring tuntasnya sisa enam rangkaian kereta lain secara bertahap hingga awal Oktober 2026.

Normalisasi sarana jadi krusial karena lintas Bogor menyangga mobilitas harian warga Jabodetabek. Setiap pengurangan perjalanan langsung terasa pada waktu tunggu dan kepadatan di jam sibuk.

Bea Cukai Sita 334,5 Kg Emas

Di sisi lain, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan mencatat 74 penindakan hukum hingga 14 September 2026. Total barang bukti emas yang disita mencapai 334,5 kilogram.

Modus penyelundupan mencakup emas batangan, perhiasan, hingga serbuk emas yang hendak diekspor ilegal. Tujuannya menghindari kewajiban kepabeanan sekaligus mengamankan penerimaan negara.

Sepanjang September 2026, operasi intensif digelar di empat bandara internasional utama: Kualanamu, Soekarno-Hatta, I Gusti Ngurah Rai, dan Sam Ratulangi. Dari operasi bandara ini, lebih dari 29 kilogram emas diamankan dengan nilai taksiran Rp 73,3 miliar.

Penggagalan penyelundupan itu menyelamatkan potensi kerugian negara dari sektor penerimaan yang hilang sebesar Rp 8,5 miliar. DJBC memperkuat instrumen pengawasan berbasis analisis intelijen untuk mengimbangi modus penyelundupan yang kian dinamis.

Dua perkembangan ini menyentuh sisi berbeda dari ekonomi harian: mobilitas ratusan ribu pengguna KRL di Jabodetabek, dan perlindungan penerimaan negara dari kebocoran komoditas bernilai tinggi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index