Pupuk Indonesia Pasok Pupuk Bersubsidi demi Kejar Swasembada Bawang Putih

Pupuk Indonesia Pasok Pupuk Bersubsidi demi Kejar Swasembada Bawang Putih
Pupuk Indonesia Pasok Pupuk Bersubsidi demi Kejar Swasembada Bawang Putih

BULETINFINANSIAL.COM — PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan siap menopang percepatan swasembada bawang putih nasional lewat penyediaan pupuk bersubsidi dan agroinput lain. Komoditas hortikultura ini tercatat masih bergantung pada impor untuk lebih dari 90 persen kebutuhan dalam negeri.

Komitmen itu disampaikan dalam Webinar "Dukungan Pupuk Bersubsidi untuk Percepatan Swasembada Bawang Putih Nasional", Rabu (16/9). Perusahaan pelat merah tersebut menegaskan bawang putih masuk daftar sepuluh komoditas penerima dukungan pupuk bersubsidi dari pemerintah.

VP Pengelolaan Pelanggan Pupuk Indonesia Robbin Radhian Lee menyebut pemupukan menyumbang sekitar 25 persen terhadap produktivitas bawang putih, mengacu data BRMP. Karena itu, ketersediaan pupuk menjadi prasyarat yang tidak bisa ditawar.

"Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk mendukung percepatan swasembada bawang putih. Komoditas ini memiliki potensi untuk dikembangkan lagi. Apalagi ada inisiatif dari Kementerian Pertanian untuk berkolaborasi dengan banyak pihak guna memperluas lahan tanam, dan kami siap mendukung melalui penyediaan agroinput," kata Robbin dalam keterangan tertulis.

Ketergantungan Impor Masih di Atas 90 Persen

Data Kementerian Pertanian 2026 mencatat lebih dari 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi pasokan luar negeri. Angka itu menjelaskan mengapa penguatan produksi dalam negeri menjadi pekerjaan rumah besar.

Direktur Pembenihan Hortikultura Kementerian Pertanian Muhammad Agung Sanusi menuturkan Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada era 1990-an. Puncaknya pada 1995 ketika produksi nasional menembus 152.421 ton.

Capaian lama itu dianggap modal untuk membangun kembali kemandirian. Arahan Presiden Prabowo Subianto pada 2026 agar kebutuhan bawang putih dipenuhi secara mandiri memperkuat dorongan tersebut.

Kebutuhan nasional pada 2025 mencapai 626.950 ton, sementara 525.640 ton di antaranya masih diimpor. Artinya, ruang bagi petani lokal untuk mengisi kekosongan pasokan masih sangat lebar.

Produktivitas Baru 6,39-8,16 Ton per Hektar

Data BPS menunjukkan produktivitas bawang putih nasional saat ini berkisar 6,39-8,16 ton per hektar. Untuk menembus 10-15 ton umbi basah per hektar, rekomendasi pemupukan harus dijalankan disiplin.

Webinar merekomendasikan aplikasi total 300 kilogram Urea Nitrea dan 600 kilogram NPK Phonska 15-15-15 secara bertahap sesuai fase pertumbuhan. Unsur nitrogen, fosfor, kalium, dan sulfur punya peran berbeda yang saling melengkapi.

Pemupukan bertahap dibutuhkan agar penyerapan hara lebih efisien sekaligus menekan kehilangan pupuk akibat penguapan atau tercuci air hujan. Pada fase awal, dosis diarahkan untuk pertumbuhan tunas dan akar, lalu bergeser ke pembentukan dan pembesaran umbi dengan NPK lebih dominan.

Apa Artinya bagi Petani dan Pelaku Usaha Tani

Bawang putih termasuk komoditas hortikultura yang mendapat alokasi pupuk bersubsidi. Penerimanya harus tergabung dalam kelompok tani, terdaftar dalam e-RDKK, dan menebus sesuai mekanisme yang berlaku.

Selain menjaga pasokan, Pupuk Indonesia menjalankan Program Makmur yang menawarkan pendampingan budidaya terintegrasi. Cakupannya mulai dari akses agroinput, praktik budidaya yang baik, dukungan pembiayaan, hingga akses pasar lewat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Perusahaan juga tengah membangun pabrik NPK berbasis nitrat berkapasitas 100.000 ton yang dijadwalkan beroperasi pada 2027. Fasilitas itu disiapkan untuk menopang swasembada bawang putih lewat skema subsidi maupun nonsubsidi.

Bagi petani, kepastian pasokan pupuk dan skema subsidi menentukan margin usaha di tengah fluktuasi harga umbi. Bagi pelaku usaha hulu-hilir, perluasan lahan tanam yang digagas Kementerian Pertanian membuka peluang pasokan bahan baku domestik yang lebih stabil.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index