BI Perlu Segera Naikkan Suku Bunga Acuan Demi Jaga Rupiah

BI Perlu Segera Naikkan Suku Bunga Acuan Demi Jaga Rupiah
Ilustrasi Rupiah Dollar (sumber foto: NET)

JAKARTA - Bank Indonesia disarankan untuk secepatnya mengerek tingkat suku bunga acuan mereka pada masa berjalan ini berdasarkan penilaian lembaga riset ekonomi makro.

Sektor yang paling mendapatkan perhatian utama ialah pergerakan nilai mata uang rupiah yang kini terpuruk ke level paling rendah sepanjang sejarah setelah sempat menyentuh posisi 17.600 per dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data pemantauan, otoritas moneter diketahui sudah menguras cadangan devisa hingga melampaui US$ 10 miliar sepanjang empat bulan ke belakang demi mengintervensi dan mengamankan stabilitas mata uang lokal.

“Untuk lebih memperluas upaya stabilisasi rupiah, Bank Indonesia seharusnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen pada rapat Dewan Gubernur mendatang,” tulis peneliti pasar finansial dalam laporan analisis makroekonomi terbaru.

Sinergi pendapat juga diungkapkan oleh analis sekuritas senior yang menganggap regulator moneter mesti menerapkan tindakan kebijakan yang jauh lebih berani serta responsif dalam menghadapi guncangan eksternal yang terus bergulir.

Keadaan pasar finansial terkini dipandang bukan lagi sekadar hambatan akibat naik-turunnya harga minyak mentah global ataupun dinamika kebijakan suku bunga internasional.

Persoalan ini dinilai telah merembet ke ranah yang lebih krusial, yakni menyangkut kredibilitas dasar kebijakan makroekonomi dalam negeri, yang memicu munculnya saran agar bank sentral menaikkan suku bunga sampai 50 basis poin.

Kebijakan perombakan instrumen moneter ini ditegaskan bukan dipicu oleh keruntuhan struktur ekonomi domestik ataupun karena adanya tekanan laju inflasi yang melonjak drastis.

“Justru ini diperlukan agar kami tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat kehilangan jangkar ekspektasi,” tulis pengamat pasar modal dalam keterangan resminya.

Pelaksanaan agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia sendiri menurut jadwal akan diselenggarakan pada kurun tanggal 19 sampai 20 Mei 2026 guna merumuskan ketetapan kebijakan ke depan.

Pada kesempatan terdahulu, petinggi bank sentral pernah mengonfirmasi bahwa peluang untuk menurunkan angka suku bunga acuan kini posisinya kian hari kian menipis.

Konsentrasi penuh otoritas moneter saat ini difokuskan secara menyeluruh untuk memproteksi ketahanan nilai rupiah dari gempuran indeks dolar AS yang terus menguat akibat memanasnya konflik geopolitik dunia.

Pemerintah moneter menilai restrukturisasi pada seluruh instrumen bauran kebijakan sangat mendesak dilakukan demi mengantisipasi tren hengkangnya dana investor asing dari pasar modal domestik.

“Pertama dari suku bunga, meskipun BI-Rate kami pertahankan 4,75, nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga harus kemudian menyikapinya untuk menggunakan untuk stabilitas,” tegas pimpinan bank sentral saat menggelar rapat kerja bersama legislatif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index