Menkeu Purbaya Sebut Fondasi Ekonomi RI Bagus Jelang Rilis Data APBN

Menkeu Purbaya Sebut Fondasi Ekonomi RI Bagus Jelang Rilis Data APBN
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

JAKARTA - Laporan terbaru mengenai perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April 2026 dipastikan akan segera dipaparkan oleh pemerintah pada Selasa (19/5/2026).

Langkah pemaparan ini diambil saat publik sedang memberikan perhatian penuh pada pembengkakan defisit kas negara yang menyentuh Rp240,1 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini.

Publik diimbau untuk tidak cemas terkait kondisi kesehatan finansial negara sekarang. Laporan periodik APBN yang akan datang diprediksi menyajikan capaian yang jauh lebih positif daripada proyeksi para pengamat ekonomi.

“Akan ada APBN KITA (Kinerja dan Fakta), laporan APBN kami sampai April,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Meski perincian terkait realisasi pendapatan serta pengeluaran negara belum dipaparkan secara rinci, pilar keuangan Indonesia diklaim tetap berada dalam kondisi yang sangat kuat.

“Itu hasilnya bagus, pasti di luar pikiran para pengamat itu. Jadi fondasi kami memang betul-betul bagus. Jadi Anda enggak usah khawatir,” tegasnya.

Rasa optimisme ini muncul setelah kinerja APBN hingga penghujung Maret 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp240,1 triliun, atau berkisar 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Nilai defisit tersebut mengalami kenaikan hingga 140,5 persen bila dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu, yang saat itu berada di angka Rp99,8 triliun atau 0,41 persen dari PDB.

Tekanan pada pos pengeluaran negara ini juga tampak dari realisasi defisit yang telah menghabiskan 34,8 persen dari keseluruhan pagu defisit APBN sepanjang tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

Padahal pada triwulan pertama tahun lalu, porsi defisit tahunan yang terserap baru mencapai angka 16,2 persen.

Pada bagian pendapatan, keuangan negara yang berhasil dihimpun hingga akhir triwulan I-2026 mencapai Rp574,9 triliun atau berkisar 18,2 persen dari target. Jumlah ini mengalami kenaikan tahunan sebesar 10,5 persen.

Sektor perpajakan menjadi pendorong utama melalui perolehan sebesar Rp462,7 triliun atau 17,2 persen dari target, meningkat sebesar 14,3 persen dari tahun sebelumnya.

Dari bidang tersebut, setoran pajak berkontribusi sebesar Rp394,8 triliun atau 16,7 persen dari target tahunan, memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan sebesar 20,7 persen secara tahunan.

Sementara itu, pemasukan dari bidang kepabeanan dan cukai berada di angka Rp67,9 triliun atau 20,2 persen dari target, meski masih mengalami penurunan sebesar 12,6 persen secara tahunan.

Untuk pos Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), realisasinya bertengger di angka Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target, namun tercatat menyusut 3 persen dari periode sebelumnya.

Di sisi lain, pemanfaatan belanja negara berjalan dengan amat progresif. Hingga akhir Maret 2026, anggaran belanja yang terpakai sudah mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen dari target, melonjak hingga 31,4 persen secara tahunan.

Percepatan ini dipicu oleh Belanja Pemerintah Pusat (BPP) yang menyentuh nominal Rp610,3 triliun atau 19,4 persen dari target, melesat sebesar 47,7 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Sedangkan untuk bagian Transfer ke Daerah (TKD) telah dikucurkan sebanyak Rp204,8 triliun atau setara 29,5 persen dari target, walaupun terdapat penurunan tipis sebesar 1,1 persen.

Lonjakan realisasi pengeluaran di tengah dinamika global serta depresiasi nilai tukar rupiah saat ini sedang memicu sorotan tajam dari para pelaku pasar finansial.

Meskipun begitu, pihak pemerintah tetap percaya diri bahwa strategi belanja ekspansif yang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto akan berjalan efektif dalam mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap bernilai tinggi di tengah situasi ketidakpastian global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index