IHSG Diprediksi Bergerak Sideways di Tengah Pelemahan Pasar Global

IHSG Diprediksi Bergerak Sideways di Tengah Pelemahan Pasar Global
Ilustrasi papan pantau saham di Bursa Efek Indonesia. Sumber: (NET)

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan akan berjalan mendatar atau sideways pada perdagangan hari ini. Kondisi tersebut terjadi seiring dengan mulai berkurangnya tekanan jual pasca koreksi yang cukup signifikan pada perdagangan sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan pasar saham di Amerika Serikat sebelumnya, mayoritas indeks bergerak melemah. Indeks Dow Jones berhasil naik 0,32 persen, namun S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,07 persen, dan Nasdaq terpangkas hingga 0,51 persen.

Pelemahan yang terjadi pada indeks Nasdaq dan S&P 500 dipicu oleh adanya tekanan pada sektor saham teknologi. Di sisi lain, para pelaku pasar terus memantau fluktuasi harga minyak mentah dunia, pergerakan tingkat imbal hasil obligasi, hingga perkembangan eskalasi situasi di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury bertenor 10 tahun mencatatkan penurunan sebesar 0,13 persen menuju ke posisi 4,587 persen. Sejalan dengan hal itu, indeks US Dollar juga ikut merosot sebesar 0,09 persen ke level 99,19.

Dari sektor komoditas global, pergerakan harga terpantau kompak berakhir di zona hijau. Komoditas WTI mengalami kenaikan sebesar 3,07 persen ke posisi USD 108,66 per barel, dan Brent menguat sebesar 2,60 persen menuju USD 112,10 per barel.

Kenaikan juga terjadi pada komoditas batu bara sebesar 1,10 persen ke level USD 138,00 per ton. Disusul oleh harga CPO yang naik 2,19 persen ke level MYR 4.534 per ton, serta komoditas emas yang menguat 0,59 persen ke angka USD 4.567 per ons.

Untuk bursa saham di kawasan Asia, mayoritas indeks ditutup terkoreksi pada perdagangan kemarin. Indeks Hang Seng melemah sebesar 1,11 persen, indeks Nikkei terpangkas 0,97 persen, dan indeks Shanghai juga turun tipis sebesar 0,09 persen.

Kondisi serupa dialami oleh IHSG yang merosot sebesar 1,85 persen dan mendarat ke level 6.599,24. Pada momentum tersebut, investor asing membukukan aksi jual bersih atau foreign net sell dengan total nilai mencapai IDR 463,6 miliar.

Rincian dari aksi pelepasan saham tersebut meliputi nilai jual bersih sebesar IDR 460,0 miliar di pasar reguler. Sedangkan sisanya, yaitu sebesar IDR 3,6 miliar, tercatat sebagai aksi jual bersih di pasar negosiasi.

Aksi net sell investor asing paling besar di pasar reguler melanda saham ANTM dengan nilai IDR 315,0 miliar. Tekanan jual asing juga terjadi pada saham BREN sebesar IDR 152,5 miliar, serta saham AMMN yang mencapai IDR 149,0 miar.

Sebaliknya, saham yang paling banyak dikoleksi asing atau net buy terbesar dipimpin oleh BBCA senilai IDR 107,1 miliar. Diikuti oleh saham BMRI dengan nilai IDR 84,8 miliar, serta saham TLKM yang mencatatkan nilai beli bersih IDR 59,2 miliar.

Pergerakan indeks juga dipengaruhi oleh saham TLKM, BYAN, dan ASII yang tampil sebagai penggerak utama pasar atau top leading movers. Sementara untuk saham DSSA, TPIA, dan BBRI justru menjadi penekan utama atau top lagging movers.

Pada pembukaan pasar Asia pagi ini, pergerakan indeks terpantau bervariasi. Indeks KOSPI langsung dibuka melemah sebesar 1,27 persen, sedangkan untuk indeks Nikkei berhasil dibuka menguat sebesar 0,83 persen.

“Hari ini, kami memperkirakan IHSG bergerak sideways seiring meredanya tekanan jual setelah penurunan kemarin,” sebagaimana dilansir dari berbagai sumber.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index