JAKARTA - Nilai tukar mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menunjukkan performa positif pada perdagangan Kamis (7/5/2026).
Merujuk pada data Bloomberg, posisi rupiah di pasar spot merangkak naik sebesar 0,31 persen secara harian ke level Rp17.333 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), mata uang rupiah juga menguat 0,24 persen secara harian ke posisi Rp17.362 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa apresiasi ini dipicu oleh ekspektasi tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan AS dalam waktu dekat. Pulihnya akses Selat Hormuz menjadi angin segar yang diharapkan mampu menjaga tren penguatan rupiah.
"Apabila hal ini terjadi, rupiah berpotensi kembali terus menguat ke depannya," ujar Lukman saat memberikan keterangan pada Kamis (7/5/2026).
Laju rupiah esok hari bakal ditentukan oleh rilis cadangan devisa dalam negeri serta data tenaga kerja Non-Farm Payroll (NFP) dari Amerika Serikat. Lukman memperkirakan pada Jumat (8/5/2026), rupiah akan berfluktuasi di rentang Rp17.250 hingga Rp17.400 per dolar AS.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, turut menilai bahwa penguatan ini disokong oleh tanda-tanda deeskalasi konflik yang konkret di Timur Tengah. Pihak Gedung Putih menanti respons positif Iran terkait poin-poin perdamaian dalam durasi 48 jam ke depan.
"Adanya optimisme atas kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah," kata Ibrahim menjelaskan kondisi pasar saat ini.
Perhatian pelaku pasar kini tersita pada data klaim pengangguran awal serta pernyataan para pejabat tinggi Federal Reserve (The Fed). Laporan sektor tenaga kerja AS bulan April yang keluar pada Jumat akan menjadi acuan bagi The Fed dalam mengambil keputusan terkait suku bunga.
Ibrahim memprediksi rupiah akan mengakhiri perdagangan esok dengan penguatan di kisaran Rp17.300 sampai Rp17.340 per dolar AS.