Langkah Taktis Bank Indonesia Menjaga Volatilitas Mata Uang Rupiah

Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:01:58 WIB
Volatilitas Mata Uang Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Calon Pemimpin Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan janji Bank Sentral demi terus memelihara kestabilan kurs rupiah.

Upaya ini diambil lewat optimalisasi momentum sentimen positif pasar serta memperkuat garis kebijakan pada sektor eksternal.

Meskipun jajaran pemerintah telah memasukkan asumsi nilai tukar mata uang rupiah sebesar 17.500 per US$ dalam RAPBN 2027, Destry menandaskan bahwa fluktuasi kurs tetap sangat dipengaruhi oleh elemen fundamental maupun sentimen jangka pendek.

"Kalau kami lihat dari faktor fundamental, termasuk ketidakpastian global yang tinggi, nilai rupiah kami sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang,” ujar Destry saat menjalani fit and proper test Calon Gubernur BI di DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Ia memaparkan bahwasanya pergerakan sentimen pasar sanggup mengubah arah nilai tukar secara cepat.

Maka dari itu, BI bertekad untuk selalu ada di pasar guna menekan volatilitas ketika sentimen positif berhembus.

"Pada saat sentimen lagi positif, Bank Indonesia akan terus ada di pasar karena itu sudah menjadi kewajiban kami menjaga volatilitas rupiah," tegasnya.

Di sisi berbeda, penguatan fundamental eksternal dipandang sebagai tugas bersama di antara pemerintah, BI, serta publik.

Peningkatan nilai ekspor barang dan jasa menjadi kunci utama dalam memperbaiki neraca transaksi berjalan yang sempat mencatatkan defisit pada kuartal II-2026 lantaran tekanan neraca jasa dan pembayaran pendapatan.

Mengenai soal pembiayaan, Destry menganggap alir investasi langsung (Foreign Direct Investment/FDI) masih tergolong stabil guna menutup keperluan eksternal.

Akan tetapi, investasi portofolio masih menjadi rintangan tersendiri lantaran pergerakannya yang sangat sensitif atas gejolak pasar global.

Sebagai langkah taktis, BI mulai menggeser konsentrasi pemanfaatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna memperkokoh transmisi suku bunga sekaligus mengawal likuiditas pasar.

Secara bertahap, besaran outstanding SRBI diturunkan dari kisaran Rp1.100 triliun menjadi sekitar Rp1.050 triliun.

"Kami akan lebih fokus menggunakan SRBI sebagai transmisi kebijakan suku bunga, supaya suku bunga di market bisa relatif melandai," jelas dari Sumbernya.

Pangkasan outstanding SRBI tersebut diproyeksikan sanggup menambah pasokan likuiditas dan menyelaraskan tingkat suku bunga pasar dengan suku bunga overnight.

Jurus ini diyakini efektif menopang stabilitas rupiah sekaligus menghadirkan suasana pembiayaan yang jauh lebih kondusif untuk pertumbuhan ekonomi nasional.

Tags

Terkini