Solikin Juhro Bawa Konsep 'SEMANGKA Nusantara' ke BI, Ini Isi Trilema yang Ditawarkan

Solikin Juhro Bawa Konsep 'SEMANGKA Nusantara' ke BI, Ini Isi Trilema yang Ditawarkan

BULETINFINANSIAL.COM — Solikin M. Juhro, yang kala itu tengah diproyeksikan menjadi calon Gubernur Bank Indonesia, menyampaikan gagasan tersebut di hadapan publik, Rabu (27/8/2026). Ia menilai bank sentral tidak bisa lagi bekerja sendiri dengan instrumen konvensional. Dibutuhkan bauran kebijakan yang lebih luas dan terintegrasi untuk menghadapi ketidakpastian global.

Nama "SEMANGKA" sendiri merupakan akronim dari sejumlah pilar strategi yang ia usung. Meski belum merinci seluruh detail teknis, Solikin menekankan bahwa kerangka ini adalah upaya untuk keluar dari paradigma lama yang kerap menempatkan stabilitas dan pertumbuhan sebagai dua kutub yang berlawanan.

Makna Dibalik Akronim SEMANGKA

Dalam paparannya, Solikin menjelaskan bahwa SEMANGKA bukan sekadar jargon politik. Ia mengusung pendekatan yang lebih holistik, di mana kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran berjalan seirama. Tujuannya jelas: memastikan stabilitas harga tidak menghambat laju ekspansi ekonomi, sekaligus memastikan hasil pembangunan dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Konsep ini muncul sebagai respons atas kondisi perekonomian domestik yang masih dibayangi perlambatan global. Solikin menilai Indonesia membutuhkan "mesin pertumbuhan baru" yang tidak hanya bergantung pada konsumsi domestik, tetapi juga penguatan sektor riil dan hilirisasi.

Menjawab Trilema Kebijakan Bank Sentral

Yang menarik dari gagasan ini adalah keberaniannya untuk mengakui adanya trilema yang selama ini dihadapi BI. Selama ini, bank sentral kerap dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar, atau menahannya demi mendorong pertumbuhan kredit.

Solikin menawarkan jalan tengah. Alih-alih memilih salah satu, ia mendorong adanya koordinasi fiskal-moneter yang lebih erat. Ia meyakini, dengan sinergi yang tepat, target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi masih bisa dicapai tanpa harus mengorbankan stabilitas makroekonomi secara berlebihan.

Reaksi Pelaku Pasar dan Langkah Selanjutnya

Gagasan ini tentu menjadi perhatian pelaku pasar. Investor umumnya menunggu kebijakan konkret, bukan sekadar konsep. Namun, sinyal tentang arah kebijakan yang lebih akomodatif terhadap pertumbuhan kerap disambut positif oleh pasar saham, terutama sektor perbankan dan konsumer.

Proses seleksi calon Gubernur BI sendiri masih berlangsung dan menjadi kewenangan presiden. Publik dan pelaku pasar masih menanti keputusan final serta bagaimana konsep seperti SEMANGKA Nusantara ini akan diterjemahkan dalam kebijakan operasional sehari-hari. Yang jelas, wacana ini telah membuka diskusi tentang masa depan arsitektur kebijakan moneter nasional.

Investasi mengandung risiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index