BNM Tahan Suku Bunga 2,75 Persen di Tengah Risiko Perang Timur Tengah

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:02:54 WIB
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi di Malaysia ( foto kontan.co.id )

MALAYSIA - kembali menetapkan suku bunga acuannya tetap untuk kelima kali secara beruntun, walaupun terdapat peningkatan risiko pada pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di wilayah Timur Tengah.

Bank sentral Malaysia, Bank Negara Malaysia (BNM), membiarkan overnight policy rate tetap pada posisi 2,75 persen dalam pertemuan Kamis (7/5). Keputusan ini selaras dengan prediksi 25 ekonom yang terlibat dalam survei Bloomberg.

Pihak bank sentral menyatakan bahwa posisi suku bunga tersebut saat ini masih “sesuai dan konsisten dengan prospek stabilitas harga yang berkelanjutan serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.”

Tercatat, BNM hanya satu kali melakukan penyesuaian suku bunga dalam kurun dua tahun terakhir, yaitu melalui pemotongan sebesar 25 basis poin yang dilakukan pada Juli 2025.

“Ketidakpastian terkait durasi dan tingkat keparahan konflik di Timur Tengah akan memengaruhi prospek pertumbuhan dan inflasi domestik. Meski demikian, fundamental ekonomi Malaysia yang kuat akan tetap menopang ketahanan ekonomi,” tulis bank sentral dalam keterangannya, sebagaimana dikutip dari Bloomberg.

Laju pertumbuhan ekonomi Malaysia tercatat melambat ke angka 5,3 persen pada kuartal pertama tahun ini, seiring dengan mulai terasa dampak perang Iran pada beberapa sektor industri utama. Lonjakan harga minyak turut memicu pembengkakan belanja subsidi bahan bakar pemerintah hingga mencapai 10 kali lipat dibanding periode sebelum konflik.

Walaupun begitu, Malaysia dianggap sebagai salah satu negara di kawasan yang paling tangguh dalam menghadapi ketidakpastian akibat guncangan energi. Tekanan harga di dalam negeri masih cukup terkendali jika dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya yang berstatus sebagai pengimpor energi bersih. Sebagai perbandingan, pada hari yang sama, Filipina justru melaporkan terjadinya perlambatan ekonomi yang tidak terduga.

Mata uang ringgit terpantau menguat 0,3 persen terhadap dolar AS menuju level 3,91 sesaat setelah pengumuman kebijakan tersebut. Tren penguatan ini juga berperan penting dalam meredam dampak inflasi impor.

Semenjak pecahnya perang Iran, ringgit hanya mengalami pelemahan di bawah 1 persen terhadap dolar AS. Secara year-to-date, mata uang ini justru menguat lebih dari 3 persen dan menjadikannya sebagai mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia sepanjang tahun 2026.

Terkini