Gangguan Penerbangan Akibat Karhutla Meluas, Garuda GA500 Terpaksa Putar Balik ke Jakarta

Gangguan Penerbangan Akibat Karhutla Meluas, Garuda GA500 Terpaksa Putar Balik ke Jakarta

BULETINFINANSIAL.COM — Jakarta Air Traffic Service Control (JATSC) mencatat gangguan tersebut terjadi di sejumlah bandara, dengan satu pesawat melakukan return to base (RTB) dan lainnya dialihkan ke bandara tujuan alternatif. Deputi General Manager Perencanaan dan Evaluasi Operasi JATSC, Raden Triaswanto, menyebutkan visibilitas di wilayah terdampak seperti Palembang, Jambi, dan Pontianak turun drastis hingga sekitar 1.000 meter.

"Ada lima gangguan, satu RTB menuju Pontianak kembali ke Jakarta, kemudian yang dari Palembang kembali ke Jambi, dan sebaliknya dari Jambi divert ke Batam," ujarnya, Sabtu (29/8). Sebagai perbandingan, jarak pandang di Jakarta saat itu masih berada di kisaran 7.000-8.000 meter.

Kronologi dan Penanganan Penerbangan GA500

Corporate Communications Division Head PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Dicky Irchamsyah, menjelaskan bahwa penerbangan GA500 lepas landas dari Jakarta dan sempat mengudara sebelum akhirnya memutuskan untuk berbalik arah. Pesawat mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (2/9) pukul 10.13 WIB.

"Dapat kami sampaikan bahwa penerbangan GA500 Jakarta-Pontianak pada Rabu (2/9) melakukan penyesuaian operasional sehubungan dengan kondisi cuaca dan jarak pandang di Bandara Supadio yang berada di bawah batas minimum operasional," kata Dicky kepada CNNIndonesia.com.

Pesawat baru diberangkatkan kembali dari Jakarta pada pukul 12.51 WIB setelah kondisi dinilai memungkinkan, dan tiba di Bandara Supadio Pontianak pada pukul 14.25 WIB. Garuda menegaskan langkah ini diambil demi mengedepankan aspek keselamatan penerbangan, sembari terus memantau kondisi cuaca dan berkoordinasi dengan otoritas penerbangan.

Hotspot di Kalimantan Barat Melonjak Hampir Dua Kali Lipat

Meluasnya gangguan ini beriringan dengan bertambahnya titik api di wilayah Kalimantan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (31/8) mencatat titik panas atau hotspot di Kalimantan Barat mencapai 7.377 titik, melonjak 3.553 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya. Jumlah fire spot di provinsi tersebut juga naik 16 titik menjadi 72 titik.

Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Tengah. Memang, jumlah hotspot tercatat turun 147 titik menjadi 5.244 titik, namun fire spot tetap bertambah 16 titik menjadi 72 titik. Di kedua provinsi ini, jarak pandang terpantau kurang dari satu kilometer.

Otoritas Terus Pantau Visibilitas demi Kelayakan Terbang

Triaswanto menjelaskan, pemantauan visibilitas menjadi kunci dalam menentukan kelayakan penerbangan maupun pendaratan. Pihaknya akan menerbitkan Notice to Air Missions (Notam) sebagai peringatan resmi bagi maskapai apabila kondisi jarak pandang dinilai tidak memenuhi syarat.

"Dikeluarkan warning seperti pemberitahuan kepada teman-teman airline bahwa visibility di area tersebut sempat ada yang kurang diperbolehkan. Nantinya untuk pengeluaran Notam layak atau tidak pendaratan atau penerbangan," tandasnya.

Pemantauan ini diperlukan untuk memastikan aktivitas penerbangan tetap memenuhi aspek kelayakan operasional serta menjamin keselamatan dan kenyamanan penumpang di tengah kondisi asap yang masih melanda sejumlah wilayah Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index