Pertumbuhan Ekonomi India Tembus 7,8% di Q2 2026, Melampaui Estimasi Pasar

Pertumbuhan Ekonomi India Tembus 7,8% di Q2 2026, Melampaui Estimasi Pasar

BULETINFINANSIAL.COM — Pertumbuhan ekonomi India pada kuartal Juni 2026 membukukan angka yang sama dengan capaian kuartal sebelumnya, yakni 7,8%. Angka ini dirilis oleh Kementerian Statistik dan Implementasi Program India pada Rabu (2/9/2026), sekaligus mematahkan estimasi jajak pendapat Reuters yang hanya mematok pertumbuhan di level 7,1%.

Kinerja Sektor Keuangan dan Jasa Menopang PDB

Mengutip laporan CNBC International, ekspansi ekonomi terbesar kelima di Asia ini utamanya ditopang oleh kinerja solid dari sektor keuangan, real estat, teknologi informasi, serta layanan profesional. Sektor manufaktur dan jasa tercatat meningkat tajam pada periode April-Juni 2026.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor pertanian yang masih melaporkan pertumbuhan lesu. Meski demikian, permintaan domestik disebut tetap kuat.

"Tingkat permintaan konsumen tetap kuat, sementara sektor manufaktur, jasa, penjualan mobil, serta pertumbuhan pinjaman masih bertahan dengan sangat baik," kata Gudwani, analis yang memantau perekonomian India.

Kenapa RBI Justru Waspadai Perlambatan?

Di tengah momentum pertumbuhan yang impresif, RBI baru-baru ini mengeluarkan sinyal kehati-hatian. Otoritas moneter India tersebut lebih dulu memproyeksikan ekonomi hanya tumbuh 7,0% pada periode tiga bulan yang berakhir Juni 2026. Untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2027, RBI memperkirakan pertumbuhan melambat ke 6,7%.

Kekhawatiran utama bank sentral bukan datang dari sisi permintaan domestik, melainkan dari ancaman eksternal. Kondisi iklim ekstrem seperti El Nino dinilai bisa memicu curah hujan monsun barat daya yang tidak merata. Risiko ini berdampak langsung pada sektor pertanian dan berpotensi melemahkan daya beli masyarakat di kawasan pedesaan.

"Lingkungan ekonomi global yang bergejolak akan berdampak pada aktivitas ekonomi domestik karena harga energi dan tekanan rantai pasokan tetap tinggi dan tidak pasti," tegas RBI.

Inflasi Terus Menanjak, Suku Bunga Tetap Ditahan

Tekanan dari harga energi yang tinggi sudah mulai terlihat di lapangan. Inflasi India merangkak naik selama sembilan bulan berturut-turut hingga mencapai 4,45% pada Juli 2026. Angka ini masih berada di bawah batas atas target toleransi RBI yang sebesar 6%, tetapi trennya jelas mengarah ke atas.

Sikap RBI berbeda dengan sejumlah bank sentral Asia lainnya yang memilih mengetatkan kebijakan moneter. Pada Agustus 2026, RBI memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan tanpa perubahan. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan bahwa pertumbuhan ekonomi masih perlu didukung di tengah ketidakpastian geopolitik.

Kombinasi antara pertumbuhan PDB yang kuat, inflasi yang terjaga, dan suku bunga yang stabil membuat India tetap menjadi salah satu pasar emerging market yang paling atraktif bagi investor global. Kewaspadaan terhadap risiko iklim dan gejolak harga energi tetap menjadi variabel yang perlu dipantau pada paruh kedua tahun ini. Investasi mengandung risiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index