BULETINFINANSIAL.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja perdagangan luar negeri yang solid pada Juli 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan, penguatan ekspor nonmigas tidak lepas dari lonjakan harga komoditas energi dan logam di pasar global.
Kenaikan tersebut memperkuat tren positif kumulatif. Sepanjang Januari-Juli 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$ 167,03 miliar, naik 4,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Batu Bara dan Besi Baja Jadi Motor Penggerak Utama
Pertumbuhan ekspor Juli 2026 ditopang oleh tiga komoditas utama. Bahan bakar mineral (HS 27) mencatatkan lompatan 34,86% secara tahunan dengan andil 3,41% terhadap total kenaikan ekspor.
Berikutnya, ekspor besi dan baja (HS 72) naik 20,31% secara tahunan, memberikan andil 1,89%. Kelompok mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) juga tumbuh 22,52% dengan andil 1,46%.
Ateng menjelaskan, kenaikan ekspor sektor industri pengolahan terutama berasal dari kimia dasar organik, aluminium, tembaga, serta besi dan baja. "Peningkatan nilai ekspor nonmigas utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan yang secara year-on-year naik sebesar 6,03%, dengan andil kenaikannya 5,01%," ujarnya dalam konferensi pers, kemarin.
Kontribusi Sektor terhadap Ekspor Nonmigas Juli 2026
Sektor industri pengolahan mendominasi nilai ekspor nonmigas dengan kontribusi US$ 21,76 miliar. Sektor pertambangan dan lainnya menyusul dengan US$ 3,10 miliar, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang US$ 0,57 miliar.
Menariknya, sektor pertambangan mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 14,85% secara tahunan. Sebaliknya, sektor pertanian justru terkontraksi 1,84% pada Juli 2026.
Komoditas Unggulan Januari-Juli 2026
Secara kumulatif, tiga komoditas andalan Indonesia—besi dan baja, CPO beserta turunannya, serta batu bara—memberikan kontribusi 28,62% terhadap total ekspor nonmigas periode Januari-Juli 2026.
Ekspor besi dan baja tumbuh 2,77%, CPO dan turunannya meningkat 5,49%, sementara batu bara naik 4,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data ini mengindikasikan permintaan domestik dan global yang tetap kuat untuk produk-produk hilirisasi.
Sementara itu, ekspor migas tercatat US$ 0,79 miliar pada Juli 2026, melanjutkan tren penurunan dengan catatan kumulatif US$ 7,02 miliar sepanjang tahun berjalan atau turun 10,63% secara year-to-date. Pelemahan ini sejalan dengan normalisasi harga minyak mentah dunia.