IHSG Diprediksi Sideways di 6.450–6.580, Investor Tunggu Sinyal Suku Bunga The Fed

IHSG Diprediksi Sideways di 6.450–6.580, Investor Tunggu Sinyal Suku Bunga The Fed

BULETINFINANSIAL.COM — Penguatan IHSG pada Kamis (27/8) memang terbilang impresif. Indeks ditutup melonjak 116,06 poin ke 6.521,75, membalikkan pelemahan 1,48 persen sehari sebelumnya. Sebanyak 553 saham menguat, dengan nilai transaksi mencapai Rp13,66 triliun.

Namun, di balik reli tersebut, investor asing justru mencatat penjualan bersih Rp262,11 miliar. Saham BBRI menjadi sasaran jual terbesar dengan net sell Rp274,4 miliar, disusul GOTO Rp108,4 miliar dan BBNI Rp89 miliar.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai pergerakan indeks hari ini akan lebih terbatas. Secara teknikal, IHSG masih berada di atas rata-rata pergerakan lima hari, namun indikator Stochastic RSI mulai menunjukkan pelemahan. "Stochastic Relative Strength Index bergerak turun di area pivot," kata Alrich.

Mengapa Level 6.500 Menjadi Kunci

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, memetakan support IHSG berada di level 6.454 dan 6.358. Adapun resistance terdekat ada di 6.552 dan 6.654.

Dengan posisi indeks di 6.521,75, level psikologis 6.500 menjadi pembatas penting. Jika IHSG mampu bertahan di atasnya, peluang menguji resistance 6.552 terbuka. Sebaliknya, gagal bertahan bisa membawa indeks kembali menguji support 6.454.

Inflasi AS dan Rupiah Jadi Penentu

Sentimen eksternal masih membayangi pasar. Data inflasi inti Amerika Serikat (PCE) Juli 2026 tercatat 3,3 persen secara tahunan, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen. Pasar kini menunggu sinyal dari simposium Jackson Hole untuk mengukur ruang penurunan suku bunga AS.

Di dalam negeri, pelemahan rupiah menjadi catatan tersendiri. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,11 persen ke Rp17.744 per dolar AS. Kondisi ini berisiko membebani emiten dengan utang valas, namun bisa menguntungkan perusahaan berorientasi ekspor.

Rebalancing MSCI dan Proyeksi Perdagangan

Menjelang pemberlakuan rebalancing indeks MSCI pada 1 September, volatilitas pada saham berkapitalisasi besar berpotensi meningkat. Dana pasif global biasanya menyesuaikan portofolio mengikuti perubahan komposisi indeks tersebut.

Pada perdagangan Kamis, saham LQ45 seperti DEWA naik 6,67 persen, CUAN menguat 5,84 persen, dan BUMI melesat 5,43 persen. Namun, dengan kombinasi tekanan eksternal dan arus dana asing yang masih keluar, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan lebih terbatas dibandingkan lonjakan sehari sebelumnya.

Pelaku pasar disarankan memantau pergerakan rupiah, arus dana asing, serta perkembangan simposium Jackson Hole sepanjang perdagangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index