The Fed Kerek Bunga ke 3,75-4%, Rupiah Melemah ke Rp17.735 per Dolar AS

Kamis, 17 September 2026 | 09:34:00 WIB

BULETINFINANSIAL.COM — Rupiah dibuka melemah 0,18% ke Rp17.724 per dolar AS dan berlanjut ke Rp17.735 pada 09:10 WIB, menyusul penguatan indeks dolar AS ke level 100,27. Pelemahan terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75-4%.

Rupiah membuka perdagangan pasar spot dengan pelemahan 0,18% ke Rp17.724 per dolar AS. Tak lama berselang, mata uang Garuda melanjutkan tekanan 0,24% ke Rp17.735 per dolar AS pada 09:10 WIB.

Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang tertekan penguatan dolar Amerika Serikat. Pelaku pasar masih mencerna sikap hawkish Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 3,75-4%.

Dolar AS Menguat ke 100,27

Kenaikan suku bunga The Fed mendorong indeks dolar AS menguat terhadap enam mata uang utama dunia ke level 100,27. Penguatan indeks dolar ini mempersempit ruang apresiasi bagi mata uang Asia, termasuk rupiah.

Investor kini mempertimbangkan seberapa cepat The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan. Pasalnya, inflasi diperkirakan semakin meluas sehingga bank sentral AS berpotensi menaikkan bunga lagi.

Pelaku pasar uang memperkirakan sekitar 50% peluang kenaikan suku bunga acuan pada Oktober. Ekspektasi ini membuat dolar AS tetap menjadi aset yang diminati.

Won Korea hingga Ringgit Ikut Tertekan

Dari kawasan Asia, won Korea Selatan melemah paling tajam. Disusul baht Thailand, rupiah, ringgit Malaysia, peso Filipina, yuan China, dolar Taiwan, dan yuan offshore.

Sebaliknya, yen Jepang mendapat penguatan terbatas bersama dolar Singapura. Kedua mata uang itu menjadi pengecualian di tengah tekanan yang melanda mayoritas mata uang Asia.

Rupiah berada di posisi ketiga terlemah setelah won Korea dan baht Thailand. Posisi ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang dalam negeri cukup signifikan dibandingkan sebagian besar peers di kawasan.

Dampak ke Pelaku Pasar dan Ekonomi

Bagi investor asing, pelemahan rupiah membuat imbal hasil aset berdenominasi dolar AS lebih menarik. Aliran modal ke pasar keuangan domestik berpotensi tertahan selama dolar masih perkasa.

Importir yang membutuhkan dolar AS untuk pembayaran barang dan jasa menghadapi biaya lebih mahal. Sebaliknya, eksportir mendapat keuntungan dari selisih kurs yang melebar.

Bank Indonesia memiliki ruang untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar. Namun, arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan ke depan tetap menjadi faktor penentu utama.

Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda selama ekspektasi kenaikan bunga The Fed masih kuat. Pasar akan menantikan data inflasi AS terbaru untuk mengukur arah kebijakan berikutnya.

Terkini