78 Persen Perusahaan Anggap Sistem Warisan Makin Krusial di Era AI

78 Persen Perusahaan Anggap Sistem Warisan Makin Krusial di Era AI

BULETINFINANSIAL.COM — Survei Ensono terhadap 500 pengambil keputusan TI di AS dan Inggris menemukan 78 persen perusahaan menilai sistem warisan seperti mainframe lebih penting ketimbang dua tahun lalu. Alasannya bukan nostalgia teknologi, melainkan data dan logika bisnis puluhan tahun yang tersimpan di dalamnya justru jadi bahan bakar utama proyek kecerdasan buatan.

Ensono merilis laporan State of IT Modernization 2026 yang menyurvei 500 pengambil keputusan TI dan pemimpin lini bisnis di Amerika Serikat serta Inggris. Temuan utamanya: perusahaan kini lebih selektif dalam mengganti perangkat keras lama mereka.

Investasi AI yang tumbuh pesat menjadi salah satu pemicu utama. Alih-alih membongkar sistem yang sudah berjalan bertahun-tahun, banyak perusahaan memilih memperpanjang usia pakainya.

Data Puluhan Tahun Jadi Umpan AI

Hampir separuh organisasi memandang sistem warisan seperti mainframe sebagai fondasi kritis untuk AI. Sistem itu juga dinilai sebagai sumber data penting bagi pengembangan layanan berbasis kecerdasan buatan.

Sebanyak 47 persen responden mengaku memakai sistem lama secara selektif untuk aplikasi AI tertentu. Pola ini menunjukkan perusahaan tidak membuang infrastruktur lama, tapi memanfaatkannya sesuai kebutuhan spesifik.

Brian Klingbeil, Chief Strategy Officer Ensono, menyebut sistem warisan sebagai sumber komputasi yang sangat kuat, andal, dan efisien. Menurutnya, sistem itu kini bisa diperkuat dan dibuat lebih lincah berkat AI.

"Sistem ini menyimpan data dan logika bisnis puluhan tahun yang menggerakkan banyak perusahaan," kata Klingbeil. "Keunggulan akan diraih organisasi yang memahami lingkungannya cukup baik untuk membedakan mana yang harus diganti dan mana yang harus diperkuat."

Menambal Sistem Lama, Bukan Menggantinya

Lebih dari separuh organisasi memilih mengoptimalkan dan memperluas sistem warisan sambil memodernisasi aplikasi di tempatnya. Pendekatan ini lebih umum di Inggris (57 persen) dibandingkan Amerika Serikat (48 persen).

Dari sisi adopsi AI, 45 persen perusahaan sedang memperluas penerapan AI di seluruh organisasi. Sementara 44 persen lainnya berinvestasi pada kasus penggunaan bertarget yang berdampak tinggi.

Dukungan terhadap AI, otomasi, dan inisiatif data lanjutan kini menjadi tekanan terbesar yang mendorong modernisasi. Lebih dari separuh perusahaan mengakui AI turut mempercepat modernisasi lewat otomasi dan efisiensi yang lebih baik.

Hambatan Integrasi dan Infrastruktur

Kendala utama tetap muncul. Kesulitan mengintegrasikan AI ke alur kerja dan proses bisnis yang ada disebut 33 persen responden sebagai tantangan terbesar.

Keterbatasan infrastruktur menyusul dengan 28 persen. Kedua hambatan ini menjelaskan mengapa sistem lama justru mengambil nilai strategis baru saat perusahaan berupaya memperluas penerapan AI.

Masalah klasik modernisasi juga belum hilang: pembengkakan anggaran, inisiatif yang tertunda, dan kekurangan talenta. Survei ini menegaskan perusahaan masih bergulat dengan persoalan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bukan Tren Baru

Pemanfaatan mainframe sebagai fondasi AI sebenarnya sudah terendus dua tahun lalu. Kyndryl saat itu menemukan mainframe mulai dilirik sebagai kandidat utama untuk menjalankan beban kerja AI.

Perusahaan kian mengintegrasikan mainframe dengan infrastruktur modern, memindahkan sebagian beban kerja sambil memperbarui yang lain di tempat. Tujuannya tetap satu: mempertahankan keamanan dan keandalan platform.

Analis Gartner juga menyebut migrasi beban kerja ke mainframe lebih masuk akal bagi pengguna VMware dibanding mengadopsi lisensi baru Broadcom. Sinyal serupa datang dari HPE, yang mengamati pelanggan korporat memperpanjang siklus penyegaran perangkat dari lima tahun menjadi tujuh tahun.

Pola ini memperlihatkan satu hal: keputusan mengganti atau mempertahankan sistem lama kini jadi persimpangan strategis, bukan sekadar urusan anggaran TI.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index