BULETINFINANSIAL.COM — Harga minyak mentah Brent ditutup naik US$3,07 atau 2,9% menjadi US$108,75 per barel pada perdagangan Selasa (15/9/2026), sementara West Texas Intermediate (WTI) melesat US$4,44 atau 4,38% ke US$105,83 per barel. Kedua kontrak mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei, dipicu penghentian pemuatan minyak mentah di terminal Yanbu, Arab Saudi, dan pembatalan sejumlah kargo ke pelanggan Eropa.
Lonjakan WTI yang lebih besar dibandingkan Brent terjadi setelah sumber industri pelayaran melaporkan pemuatan minyak mentah di terminal Yanbu dihentikan. Riyadh juga membatalkan sejumlah kargo minyak mentah untuk pelanggan di Eropa yang dijadwalkan dikirim pada akhir September.
Yanbu menjadi perhatian pasar karena terminal itu merupakan salah satu jalur penting ekspor minyak Arab Saudi. Perannya kian krusial setelah konflik AS-Israel dengan Iran mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global.
Ketergantungan pada Pipa East-West
Gangguan di Selat Hormuz membuat Arab Saudi semakin mengandalkan East-West Pipeline, pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang mengalirkan minyak dari wilayah timur negara itu menuju Yanbu di pesisir Laut Merah. Namun jalur ekspor Saudi menghadapi tekanan tambahan setelah serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap infrastruktur minyak Saudi pada Jumat.
Ketidakpastian soal berapa lama ekspor Arab Saudi dapat kembali normal membuat pelaku pasar bergerak cepat. Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow menilai pedagang membeli kontrak berjangka WTI dengan asumsi gangguan akan berlangsung lebih lama dari perkiraan.
"Para pedagang telah membeli kontrak berjangka WTI dengan asumsi bahwa gangguan pada ekspor Arab Saudi akan berlangsung lebih lama dari perkiraan," kata Andy Lipow.
Menurut Lipow, kondisi tersebut dapat mendorong kilang-kilang Eropa beralih menggunakan minyak mentah dari Amerika Serikat.
Ekspektasi Investor Berubah
Ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain, menilai serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi dapat mengubah cara investor memandang konflik.
"Serangan baru oleh kelompok Houthi yang menargetkan Arab Saudi mungkin memengaruhi ekspektasi investor pasar minyak mengenai tingkat keparahan dan durasi konflik," ujar Hamad Hussain.
Libya Ikut Hentikan Operasi Tiga Ladang Minyak
Tekanan pasokan datang dari arah lain. National Oil Corporation (NOC) Libya menyatakan operasi di tiga ladang minyak dihentikan setelah anggota Petroleum Facilities Guard menutup katup pada pipa ekspor Hamada-Zawiya. NOC memperingatkan dapat memberlakukan force majeure jika penutupan berlanjut, kondisi yang berpotensi mengganggu produksi dari ladang minyak lainnya.
Di Arab Saudi, gangguan pada East-West Pipeline dapat membatasi kemampuan Riyadh mengalirkan minyak menuju terminal ekspor di Laut Merah. Goldman Sachs memperkirakan waktu perbaikan pipa tersebut berkisar dari beberapa hari hingga delapan minggu.
Menteri Energi AS Chris Wright memberikan estimasi berbeda, menyatakan aliran minyak melalui pipa vital tersebut seharusnya dapat kembali dalam beberapa hari. Perbedaan perkiraan itu membuat pasar masih diliputi ketidakpastian soal durasi gangguan pasokan Arab Saudi.
Risiko Pasokan Kian Menumpuk
Serangan Rusia dan Ukraina terhadap fasilitas energi masing-masing turut menambah tekanan terhadap pasokan bahan bakar global. Rangkaian gangguan tersebut membuat pasar minyak menghadapi risiko pasokan yang semakin besar, terutama ketika konflik di Timur Tengah masih mengancam jalur perdagangan energi utama.
Bagi investor, kenaikan harga minyak berpotensi menekan biaya energi dan margin sektor transportasi serta manufaktur, sekaligus menguntungkan emiten energi. Investasi mengandung risiko.