Indeks Harga Saham Gabungan Berpotensi Bergejolak Imbas Arah The Fed

Kamis, 23 Juli 2026 | 12:35:28 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)(FOTO : NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) terhadap tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat (AS).

Bank sentral AS itu diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada paruh kedua 2026.

Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai arah kebijakan suka bunga The Fed ini berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pasalnya, suku bunga tinggi cenderung memperkuat posisi dolar dan meningkatkan daya tarik aset-aset di AS.

Kondisi ini disebut mendorong arus keluar modal asing secara sementara di pasar saham negara berkembang.

Sejumlah sektor dengan kepemilikan investor asing yang tinggi dan sektor yang sensitif terhadap kondisi likuiditas global diperkirakan akan mengalami tekanan.

"Namun, volatilitas yang dipicu oleh faktor eksternal seperti perubahan kebijakan The Fed umumnya bersifat sementara dan tidak mengubah prospek jangka panjang pasar saham Indonesia," ujar Head of Equity AllianzGI Indonesia, Octavius Prakarsa dalam keterangan tertulis, Kamis, (23/07/2026).

Octavius menilai, Indonesia memiliki daya tarik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Hal ini ditopang oleh ketahanan ekonomi domestik, inflasi yang terkendali, dan fundamental makroekonomi yang membaik.

Dalam kondisi ini, pendekatan investasi yang lebih selektif dan berfokus pada kualitas saham.

Perusahaan yang memiliki kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat, struktur neraca, daya tawar penetapan harga, hingga pertumbuhan laba berkelanjutandinilai memiliki ketahanan yang lebih baik saat kondisi keuangan yang semakin ketat.

"Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, kemampuan memilih saham secara aktif menjadi semakin penting. Strategi active management memungkinkan investor mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental kuat, mampu beradaptasi terhadap perubahan siklus ekonomi, serta berpotensi menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang," tambahnya.

Sementara dari perspektif global, AllianzGI menilai ada sejumlah faktor yang mendukung kemungkinan Federal Reserve kembali mengambil sikap yang lebih agresif dalam beberapa bulan ke depan.

Salah satunya inflasi inti di AS yang masih bertahan di atas target.

Pada Mei 2026, inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) tercatat meningkat menjadi 3,4% secara tahunan.

Angka ini mencerminkan tekanan inflasi yang belum mereda meski suku bunga berada pada level yang relatif tinggi.

"Kami melihat pasar sempat terlalu optimistis bahwa pergantian kepemimpinan di Federal Reserve akan membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Namun, prioritas utama The Fed tetap memulihkan kredibilitas dalam menjaga stabilitas harga. Selama inflasi masih bertahan di atas target, kebijakan yang lebih ketat masih menjadi skenario yang paling mungkin," tulis Tim CIO AllianzGI dalam House View Update berjudul "Fed Hikes Back in Focus," pungkasnya.

AllianzGI sendiri memperkirakan The Fed akan mengedepankan pendekatan 'first things first', yakni memastikan inflasi kembali terkendali sebelum berfokus pada agenda reformasi jangka panjang yang didukung peningkatan produktivitas.

Pendekatan ini menjadi dasar proyeksi AllianzGI terkait suku bunga acuan AS berpotensi naik sebesar total 50 basis poin pada paruh kedua 2026.

Terkini