Menkeu Purbaya Jamin Defisit APBN Aman di Bawah Batas 3 Persen Negara

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:27:32 WIB
menkeu, purbaya yudhi sadewa. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih dalam kondisi aman. Menurutnya, pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal dengan memastikan defisit APBN tidak melampaui batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara rasio utang pemerintah masih berada di kisaran 40 persen dari PDB.

Purbaya mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi fiskal Indonesia karena pengelolaan APBN dilakukan secara akuntabel dan diaudit oleh lembaga yang berwenang. "Saya enggak mungkin berbohong, karena kan di audit, sama BPK dan lain-lain. Sekarang defisit kami kan tetap dijaga di bawah 3 persen dari PDB. Tahun lalu hanya 2,81 persen. Tahun ini mungkin juga dia akan di bawah 2,9 persen. Limitnya kan 3 persen," ujar Purbaya.

Ia juga menegaskan posisi utang pemerintah masih berada pada level yang relatif aman jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain. "Rasio utang kami ke PDB masih sekitar 40 persen. Belum sampai 60 persen. Masih jauh dari 60 persen. Kami masih aman." jelas Purbaya.

Purbaya kemudian membandingkan rasio utang Indonesia dengan beberapa negara lain. Menurut dia, rasio utang Amerika Serikat telah melampaui 100 persen terhadap PDB, Jepang sekitar 275 persen, Jerman sekitar 60 persen, Singapura sekitar 175 persen, Thailand mendekati 70 persen, dan Malaysia berada di kisaran 60 persen.

"Kalau kami dibanding Amerika, 100 persen. Jepang, 275. Jerman, 60. Singapura, 175 kalau nggak salah. Thailand hampir 70-an. Malaysia agak tinggi juga, 60. Kalau lihat dari standar-standar internasional yang paling ketat pun, kami masih prudent." ungkapnya.

Selain menjelaskan kondisi APBN, Purbaya juga mengungkapkan dirinya pernah memberikan masukan kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah tidak melampaui batas defisit APBN sebesar 3 persen. Menurut Menkeu Purbaya, menjaga batas tersebut penting untuk mempertahankan kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi.

Lebih lanjut, Purbaya menceritakan bahwa dalam salah satu pembahasan, sempat muncul gagasan untuk membiarkan defisit melampaui batas yang ditetapkan. Namun, ia menyampaikan keberatan kepada Presiden Prabowo Subianto. "Pertama dia mau gitu. Gimana kalau tembus (defisitnya)? Oh jangan Pak. Saya bilang kalau sekarang kami tembus di atas 3 persen. Semua pasti meribut kan." katanya.

Menurut Purbaya, apabila batas defisit dilanggar pada saat kondisi ekonomi belum cukup kuat, dampaknya dapat memicu sentimen negatif di pasar keuangan. "Kami enggak bisa jaga stabilitas. Nanti Pak kalau kami udah tembus 7-8 persen kami hajar 3-4 persen nggak apa-apa." ujar Menkeu Purbaya.

Purbaya mengatakan Presiden Prabowo Subianto kemudian menyesuaikan pandangannya setelah mendengar penjelasan tersebut. Bahkan, menurut dia, dalam kesempatan lain Presiden justru sempat mengusulkan agar defisit dibuat mendekati nol.

Namun, kali ini Purbaya kembali menyampaikan pandangan berbeda. Ia menilai penurunan defisit juga tidak boleh dilakukan terlalu cepat karena perekonomian nasional masih membutuhkan dukungan fiskal. "Nah sekarang dia malah berbalik arah. Gimana kalau kami buat nol defisitnya? Oh jangan Pak, ekonomi masih butuh dorongan. Kami atur pelan-pelan ke bawah." jelas Purbaya.

Menurut Purbaya, penyesuaian kebijakan fiskal harus dilakukan secara bertahap agar dapat diserap dengan baik oleh perekonomian. Ia menilai keseimbangan antara disiplin fiskal dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi hal penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global. "Presiden itu pintar jadi jangan takut," tutupnya.

Terkini