TOKYO - Imbal hasil surat utang negara Jepang atau Japanese Government Bonds tenor 10 tahun kian mendekati angka 3%, posisi yang terakhir kali terlihat pada pertengahan dekade 90-an.
Peningkatan ini menggambarkan makin besarnya kecemasan akan inflasi, situasi fiskal, serta antisipasi peralihan kebijakan moneter Bank of Japan.
Mengutip Reuters, imbal hasil surat utang negara Jepang tenor 10 tahun naik selama tujuh hari beruntun pada Selasa (18/8/2026), mencapai 2,945%.
Tingkat tersebut adalah yang tertinggi semenjak September 1996.
Lonjakan imbal hasil juga terjadi pada tenor pendek.
Imbal hasil surat utang negara Jepang tenor lima tahun mencatat rekor tertinggi, sementara tenor dua tahun mencapai posisi tertinggi dalam 31 tahun.
Pergerakan tersebut memperlihatkan perubahan besar pada pasar obligasi Jepang yang sudah lebih dari satu dekade terbiasa dengan suku bunga sangat rendah akibat pembelian obligasi secara besar-besaran oleh Bank of Japan.
Kini, meningkatnya tekanan inflasi dunia akibat perselisihan di Timur Tengah serta harapan kenaikan suku bunga Bank of Japan membuat penanam modal mulai menuntut imbal hasil yang lebih tinggi.
Lonjakan imbal hasil surat utang negara Jepang juga memicu tanya apakah kenaikan tersebut merupakan bagian wajar dari pemulihan inflasi serta ekonomi Jepang atau mulai mencerminkan meningkatnya risiko fiskal pemerintah.
Strategis fixed income Deutsche Bank untuk Jepang, dari Sumbernya, menyebutkan kenaikan imbal hasil surat utang negara Jepang saat ini mencerminkan paduan kenaikan upah, inflasi, serta keresahan terhadap besarnya penerbitan obligasi serta pengeluaran pemerintah.
"Premi risiko fiskal yang tercermin dalam imbal hasil merupakan bentuk disiplin pasar terhadap belanja pemerintah di masa depan," ujar dari Sumbernya.
Menurut dari Sumbernya, kenaikan imbal hasil sekarang lebih mencerminkan normalisasi dengan peringatan, bukan suatu krisis.
Keresahan fiskal menjadi makin besar karena utang Jepang sudah sampai lebih dari 200% terhadap Produk Domestik Bruto.
Perdana Menteri Sanae Takaichi sejak menjabat pada Oktober mendorong taktik pertumbuhan berbasis investasi dengan fokus pada industri strategis.
Rancangan pengeluaran tersebut, ditambah kebijakan pemotongan pajak, memicu keresahan bahwa situasi fiskal Jepang bisa makin terbebani.
Di sisi lain, inflasi serta pelemahan yen yang berada di dekat posisi terendah dalam hampir empat dekade menambah tekanan terhadap Bank of Japan untuk mempercepat kenaikan suku bunga.
Pasar kini makin memprediksi Bank of Japan bakal menaikkan suku bunga pada bulan depan.
Antisipasi tersebut turut memicu kenaikan imbal hasil surat utang negara Jepang.
Ekonom NLI Research Institute, dari Sumbernya, mengatakan hubungan antara pelemahan yen serta kenaikan imbal hasil obligasi perlu jadi perhatian.
"Menembus 3% merupakan level simbolis. Jika perhatian pasar beralih pada inflasi yang mendasari dan kekhawatiran fiskal, tekanan untuk menjual yen dapat meningkat," ujarnya.
Kenaikan imbal hasil juga berpotensi memengaruhi arus dana dunia.
Jika imbal hasil surat utang negara Jepang menjadi makin menarik, penanam modal Jepang bisa menarik kembali dana yang selama ini ditempatkan pada obligasi Amerika Serikat serta Eropa.
Naoya Hasegawa, kepala strategi obligasi Okasan Securities menilai, ketidakpastian kebijakan fiskal serta moneter Jepang masih besar sehingga pemulihan permintaan penanam modal terhadap surat utang negara Jepang kemungkinan belum bakal terjadi dalam waktu dekat.
Menurut dari Sumbernya, terdapat kemungkinan cukup besar bahwa angka 3% hanya menjadi pijakan berikutnya, bukan batas atas imbal hasil obligasi Jepang.
Kenaikan imbal hasil surat utang negara Jepang juga terjadi di tengah tekanan pada pasar obligasi dunia.
Imbal hasil obligasi Amerika Serikat, Jerman, serta Prancis turut melonjak ke posisi tertinggi dalam beberapa tahun akibat keresahan inflasi serta antisipasi pengetatan kebijakan moneter.
Meski begitu, beberapa ekonom menilai Jepang masih mempunyai ruang untuk menghadapi kenaikan biaya pembiayaan karena selama bertahun-tahun menikmati suku bunga yang sangat rendah.
Takuji Okubo, Managing Director sekaligus Chief Economist Japan Macro Advisor mengatakan, suku bunga efektif pemerintah Jepang saat ini masih sekitar 1,07% serta diprediksi naik jadi 1,32% apabila Bank of Japan menaikkan suku bunga jadi 1,5% pada tahun fiskal 2027.
"Jepang masih memiliki waktu untuk menata kondisi fiskalnya. Ada negara lain yang berada dalam kondisi jauh lebih buruk dibandingkan Jepang," kata dari Sumbernya.