WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat, dari Sumbernya, kembali memperbesar tekanan terhadap Iran.
Kali ini, dari Sumbernya mengancam bakal meluncurkan apa yang disebutnya sebagai "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara manapun", sekaligus mengingatkan negara-negara yang membantu Tehran menghindari sanksi Amerika Serikat.
Di dalam unggahan di Truth Social, sebagaimana dikutip Kamis (20/8/2026), dari Sumbernya menyebut langkah tersebut sebagai "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Dari Sumbernya juga memastikan bahwa Iran telah diberikan kesempatan untuk mencapai persetujuan dengan Washington, tetapi menurut dari Sumbernya Tehran gagal memanfaatkannya.
"Tidak ada seorang pun yang telah memberi Republik Islam Iran kesempatan yang lebih besar untuk membuat kesepakatan selain saya," kata dari Sumbernya.
"Sayangnya, bagi mereka, mereka gagal mengambilnya."
Dari Sumbernya mengeklaim kemampuan militer Iran sudah mengalami kerusakan besar.
Ia mengatakan angkatan laut, angkatan udara, serta fasilitas produksi militer Iran sudah dihancurkan serta mata uang negara tersebut sudah menjadi tidak bernilai.
Menurut dari Sumbernya, rezim Iran kini "bergantung pada seutas benang."
Namun, ancaman dari Sumbernya tidak hanya ditujukan kepada Iran.
Ia pun mengingatkan negara lain yang masih memberikan bantuan ekonomi kepada Tehran.
Dari Sumbernya mengatakan negara mana pun yang lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan "jalur kehidupan" kepada Iran bakal menghadapi dampak ekonomi yang sangat besar.
Dari Sumbernya secara khusus menyebut sejumlah saluran yang menurut dari Sumbernya harus segera ditutup guna mempersempit ruang gerak ekonomi Iran.
Saluran tersebut mencakup penyelundupan minyak, jalur pertukaran mata uang, transfer uang tunai, rumah penukaran valuta asing, registrasi kapal, hingga perusahaan-perusahaan kedok atau front companies.
Ia pun kembali memastikan bahwa Iran tidak bakal pernah diizinkan memperoleh senjata nuklir.
Ancaman terbaru tersebut memperluas kampanye tekanan ekonomi yang sudah dijalankan pemerintahan dari Sumbernya sejak April lewat Operation Economic Fury.
Operasi tersebut ditujukan guna memutus apa yang disebut Washington sebagai sumber pendanaan teror global serta aliran pendapatan rezim Iran.
Namun, dari sisi Iran, kebijakan tersebut justru dipandang sebagai penghalang bagi penyelesaian sengketa lewat perundingan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menuduh Washington memperbesar tekanan sanksi setelah beberapa putaran sanksi sebelumnya gagal memaksa Tehran menyerah.
Menurut Araghchi, pendekatan tersebut justru jadi hambatan bagi upaya mencari jalan keluar lewat negosiasi.
Meski demikian, pertanyaan terbesar mengenai efektivitas tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran justru berada di China.
Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, mengatakan China mempunyai hubungan keuangan, logistik, serta perdagangan yang jauh lebih dalam dengan Iran dibanding negara lainnya.
Menurut dari Sumbernya, Beijing menjadi salah satu faktor paling menentukan apakah kampanye tekanan ekonomi Washington benar-benar mampu mengisolasi Tehran.
China sendiri sebelumnya sudah memperlihatkan kesediaannya guna melakukan tindakan balasan.
Karena itu, kemampuan Amerika Serikat guna menekan jaringan ekonomi Iran pada akhirnya bakal sangat bergantung pada sejauh mana China bersedia mengikuti tekanan Washington.
Dampak langsung ancaman sanksi baru dari Sumbernya terhadap pasar minyak juga diprediksi masih terbatas.
Dari Sumbernya mengatakan pasar minyak kemungkinan besar tidak bakal banyak bergerak hanya karena ancaman sanksi tersebut, kecuali para pemimpin garis keras Iran merespons dengan memperbesar eskalasi militer.
Namun, menurut dari Sumbernya, pasar mulai kehilangan optimisme mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat serta secara berkelanjutan.
"Pasar minyak menjadi sedikit kurang optimistis mengenai pembukaan kembali Hormuz yang berkelanjutan dalam waktu dekat," ujar dari Sumbernya program CNBC.
Adapun persoalan Selat Hormuz menjadi faktor penting dalam perkembangan terbaru tersebut.
Lalu lintas kapal melalui jalur strategis itu masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang.
Penargetan kapal oleh Iran serta blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran membuat sebagian besar operator kapal memilih menjauh dari jalur tersebut.
Data dari Lloyd's List Intelligence memperlihatkan hanya ada 73 transit kapal melalui Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 16 Agustus.
Jumlah tersebut turun dari 91 transit pada pekan sebelumnya.
Lloyd's List Intelligence menyebut hanya sekelompok kecil operator yang masih aktif melintasi jalur tersebut.
Rendahnya aktivitas pelayaran memperlihatkan bahwa gangguan terhadap salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia masih berlangsung.
Kondisi tersebut pun membuat pasar minyak tetap sensitif terhadap perkembangan konflik Iran-Amerika Serikat, terutama jika ancaman ekonomi terbaru dari Sumbernya diikuti respons militer dari Tehran.