JAKARTA - Utang pemerintah Amerika Serikat untuk kali pertama menembus angka US$40 triliun atau sekitar Rp 712.000 triliun dengan asumsi US$1 setara Rp 17.800.
Informasi dari Departemen Keuangan Amerika Serikat memperlihatkan total kewajiban pemerintah mencapai US$40,047 triliun per 18 Agustus 2026.
Nominal itu bertambah dari US$37,209 triliun per 19 Agustus 2025.
Dalam rentang nyaris satu tahun, utang pemerintah Amerika Serikat meningkat kurang lebih US$2,839 triliun atau 7,63%.
Lonjakan itu meneruskan pola pembengkakan utang dalam sepuluh tahun terakhir.
Pada Januari 2017, total utang pemerintah Amerika Serikat masih berada di kisaran US$19,95 triliun.
Sekarang, totalnya sudah naik melebihi dua kali lipat seiring besarnya pengeluaran pemerintah, pemotongan pajak, serta kebutuhan dana selama dan sesudah pandemi Covid-19.
Berdasarkan informasi Debt Dashboard Joint Economic Committee Kongres Amerika Serikat, pertambahan utang dalam setahun terakhir yakni semenjak 19 Agustus 2025 hingga 18 Agustus 2026 mencapai rerata US$7,798 miliar setiap harinya.
Nominal tersebut setara dengan US$324,93 juta setiap jam, US$5,42 juta setiap menit, atau US$90.257,73 setiap detik atau kurang lebih Rp 1,6 miliar.
Utang pemerintah Amerika Serikat terbagi dalam dua kategori utama, yakni kewajiban yang dimiliki publik serta kewajiban antarlembaga pemerintah.
Sebagian besar lonjakan berasal dari kewajiban yang dimiliki publik.
Dalam periode itu, nilainya bertambah US$2,44 triliun.
Sementara itu, kewajiban antarlembaga pemerintah naik kurang lebih US$391,32 miliar.
Adapun, kewajiban yang dipegang publik menyentuh US$32,266 triliun atau kurang lebih 81% dari keseluruhan beban pemerintah Amerika Serikat.
Kelompok ini meliputi surat berharga yang dimiliki investor perorangan, bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, bank sentral, hingga pemerintah negara lain.
Sementara itu, kewajiban antarlembaga pemerintah menyentuh US$7,782 triliun atau kurang lebih 19%.
Kewajiban tersebut dimiliki oleh beragam lembaga serta dana perwalian pemerintah Amerika Serikat, termasuk program perlindungan sosial.
Surat berharga pemerintah Amerika Serikat yang dimiliki publik terdiri atas beberapa jenis instrumen dengan durasi berbeda.
Berdasarkan informasi Departemen Keuangan Amerika Serikat per Juli 2026, jumlahnya mencapai kurang lebih US$32,05 triliun.
Lebih dari separuh kewajiban tersebut berbentuk Treasury notes, yaitu surat berharga durasi menengah, dengan nilai US$16,17 triliun atau 50,45% dari keseluruhan.
Selanjutnya terdapat Treasury bills senilai US$6,99 triliun atau 21,81%.
Instrumen ini mempunyai durasi lebih singkat serta lazimnya jatuh tempo dalam durasi kurang dari satu tahun.
Sementara itu, surat utang durasi panjang atau Treasury bonds menyentuh US$5,48 triliun atau 17,09%.
Sisanya sebesar US$3,41 triliun atau 10,65% berada pada instrumen lainnya, termasuk surat utang yang memberikan proteksi terhadap inflasi atau Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS).
Di samping besarnya nominal kewajiban, pemerintah Amerika Serikat pun menghadapi rintangan dari jadwal jatuh tempo surat berharganya.
Berdasarkan informasi kuartal ketiga tahun fiskal 2026, kurang lebih 33% surat berharga pemerintah Amerika Serikat yang dimiliki publik serta dapat diperdagangkan akan jatuh tempo dalam durasi 12 bulan.
Kondisi tersebut menjadikan pemerintah harus menyiapkan pendanaan baru guna melunasi atau mengganti surat utang yang jatuh tempo.
Jika suku bunga naik, kewajiban baru yang diterbitkan guna mengganti surat berharga lama berpotensi membawa beban bunga lebih tinggi.
Rerata durasi jatuh tempo kewajiban pemerintah Amerika Serikat berada di kisaran 71 bulan pada Juni 2026.
Angka itu sedikit menurun dibanding Juni 2025 yang menyentuh 72 bulan, namun masih lebih panjang daripada Juni 2021 yang tercatat 69 bulan.
Kendati kebutuhan pendanaan terus naik, minat terhadap surat berharga Amerika Serikat masih tampak lumayan kuat dalam pelelangan.
Hal itu terlihat dari bid-to-cover ratio, yakni perbandingan antara jumlah tawaran yang masuk serta jumlah surat berharga yang dijual pemerintah.
Rasio di atas dua memperlihatkan nilai tawaran yang masuk paling tidak dua kali lebih besar dibanding surat berharga yang ditawarkan.
Di samping investor domestik, pemerintah Amerika Serikat pun bergantung pada minat dari luar negeri.
Informasi Treasury International Capital memperlihatkan kepemilikan asing atas surat berharga pemerintah Amerika Serikat menyentuh US$9,299 triliun pada Juni 2026.
Jepang menjadi pemegang terbesar dengan kepemilikan US$1,117 triliun.
Posisi selanjutnya ditempati Inggris sebesar US$939,9 miliar serta China US$633,4 miliar.
Namun, total kepemilikan asing tersebut menurun kurang lebih US$72,1 miliar dibanding Mei 2026.
Jepang mengurangi kepemilikannya kurang lebih US$26,4 miliar, sementara China memangkas kurang lebih US$25,9 miliar.
Penurunan kepemilikan asing perlu diperhatikan sebab pemerintah Amerika Serikat tetap harus mencari pembeli untuk surat berharga baru sekaligus mengganti surat utang yang akan jatuh tempo.
Pembengkakan kewajiban terjadi saat pengeluaran pemerintah lebih besar dibanding penerimaannya.
Selisih tersebut kemudian ditutupi lewat penerbitan surat berharga.
Pengeluaran pemerintah Amerika Serikat berada di kisaran US$7 triliun per tahun.
Kurang lebih 60% di antaranya dipakai untuk beragam program wajib, seperti perlindungan sosial, Medicare, Medicaid, serta layanan bagi veteran.
Pengeluaran tersebut relatif sukar dikurangi sebab terkait dengan kebutuhan warga serta kewajiban pemerintah.
Kebutuhan pendanaan pun naik selama pandemi Covid-19.
Beragam program bantuan serta pemulihan ekonomi menyumbang kurang lebih sepertiga dari kenaikan kewajiban Amerika Serikat semenjak 2017.
Di sisi penerimaan, kebijakan pemotongan pajak ikut memperlebar defisit anggaran.
Pada Juli 2026 saja, defisit pemerintah Amerika Serikat menyentuh US$432 miliar.
Semakin besar kewajiban yang menumpuk, semakin besar pula beban bunga yang harus dibayarkan.
Beban bunga tahunan pemerintah Amerika Serikat kini berada di kisaran US$1,1 triliun.
Dalam 10 bulan pertama tahun fiskal 2026, pembayaran bunga bahkan sudah melampaui pengeluaran untuk program Medicare.
Posisi tersebut menjadikannya salah satu komponen terbesar dalam anggaran pemerintah Amerika Serikat, setelah perlindungan sosial.
Kondisi tersebut menciptakan tekanan berulang terhadap anggaran.
Pemerintah harus menerbitkan kewajiban baru guna membiayai defisit, sementara pembayaran bunga atas kewajiban yang sudah ada terus membengkak.
Besarnya kebutuhan pendanaan mulai memengaruhi pasar surat utang.
Investor meminta imbal hasil lebih tinggi guna menampung pasokan surat berharga, terutama saat inflasi masih menjadi perhatian serta penerbitan surat utang terus bertambah.
Imbal hasil US Treasury durasi 30 tahun sempat menembus kurang lebih 5,34% pada perdagangan Selasa (18/8/2026).
Posisi tersebut menjadi yang tertinggi semenjak 2007.
Imbal hasil US Treasury durasi 10 tahun pun naik hingga kurang lebih 4,739%.
Kenaikan imbal hasil memperlihatkan harga surat utang sedang turun.
Kondisi tersebut menjadikan pemerintah berpotensi menghadapi beban pinjaman lebih tinggi saat menerbitkan surat berharga baru.
Menanggapi tekanan di pasar, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan perluasan program pembelian kembali atau buyback surat utang pada Rabu (19/8/2026).
Nilai pembelian untuk surat utang dengan sisa durasi 10-20 tahun serta 20-30 tahun ditingkatkan dari maksimal US$2 miliar menjadi paling tidak US$4 miliar untuk setiap operasi.
Peningkatan tersebut dijadwalkan berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026.
Program ini menyasar surat utang yang sudah beredar serta relatif kurang likuid.
Pembelian kembali diharapkan memperlancar perdagangan serta meredakan tekanan pada pasar surat utang durasi panjang.
Sesudah pengumuman tersebut, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat pun berhasil mengalami penurunan.
Dilansir dari Refinitiv, pada perdagangan Kamis (20/8/2026) siang, imbal hasil US Treasury durasi 30 tahun turun menjadi kurang lebih 5,181%.
Imbal hasil durasi 10 tahun pun mereda ke kurang lebih 4,637%.
Namun, langkah tersebut bukan pengurangan kewajiban pemerintah secara permanen.
Departemen Keuangan Amerika Serikat dapat membiayai pembelian kembali memakai kas yang tersedia atau menyesuaikannya dengan penerbitan surat berharga lain.
Program ini pun berbeda dengan pembelian surat utang oleh bank sentral atau quantitative easing.
Fokus utamanya ialah menjaga kelancaran pasar, bukan memberikan stimulus moneter.
Dengan demikian, buyback dapat membantu meredakan tekanan durasi pendek, namun tidak menyelesaikan persoalan defisit anggaran serta besarnya kebutuhan pendanaan pemerintah.
Tekanan di pasar surat utang tidak hanya terjadi di Amerika Serikat.
Di Eropa, imbal hasil surat utang pemerintah Jerman durasi 10 tahun sempat menyentuh 3,275%, posisi tertinggi dalam kurang lebih 15 tahun.
Imbal hasil tersebut kemudian turun ke kurang lebih 3,258% sesudah pengumuman program buyback dari Departemen Keuangan Amerika Serikat membantu meredakan tekanan pasar global.
Sementara itu, imbal hasil surat utang pemerintah Prancis durasi 10 tahun sempat melampaui 4,13%, level tertinggi semenjak 2008.
Kondisi serupa terjadi di Jepang.
Imbal hasil Japanese Government Bond (JGB) durasi 10 tahun sempat mencapai 2,945% pada Selasa (18/8/2026), tertinggi semenjak September 1996.
Posisi tersebut mendekati level psikologis 3%, yang menjadi perhatian sebab Jepang mempunyai beban kewajiban pemerintah lebih dari dua kali ukuran ekonominya.
Kenaikan imbal hasil di beragam negara maju didorong oleh kecemasan yang serupa, mulai dari inflasi yang bertahan tinggi, meningkatnya kebutuhan pendanaan pemerintah, hingga besarnya pasokan surat berharga.
Perang di Timur Tengah ikut memperkuat tekanan sesudah mendorong harga minyak kembali menembus US$90 per barel.
Energi yang lebih mahal berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi serta mempersempit ruang bank sentral guna menurunkan suku bunga.
Pada saat yang sama, pemerintah harus bersaing dengan perusahaan teknologi yang menerbitkan surat utang guna membiayai pembangunan pusat data serta infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).