JAKARTA - Penyesuaian regulasi mengenai daftar saham high shareholding concentration (HSC) diperkirakan mampu mendorong kembali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level di atas 7.000.
Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) kini telah memasukkan 37 saham baru ke dalam klasifikasi HSC tersebut.
Penambahan ini diperoleh dari proses seleksi dengan memakai indikator price-impact ratio.
Langkah penyaringan baru ini diterapkan seusai BEI melakukan perbaikan pada metodologi penentuan HSC.
Penyesuaian tersebut berjalan lewat penerapan kriteria price-impact ratio khusus bagi saham yang nilai kapitalisasi pasarnya melebihi Rp 10 triliun.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, kebijakan baru ini dapat membawa pengaruh positif terhadap aspek keterbukaan informasi di pasar modal. “Apalagi kemarin ada penambahan indikator baru, yaitu price impact ratio, sehingga penilaian HSC menjadi lebih akurat,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).
Upaya ini pun dipandang menjadi momentum krusial bagi Bursa Efek Indonesia untuk menjalankan pembenahan di pasar saham.
Hal itu dikarenakan kebijakan tersebut memperlihatkan komitmen BEI dalam membenahi tata kelola demi memperkuat kepercayaan publik ke depan.
Harapan besarnya, percepatan pembenahan pasar modal dan keterbukaan informasi ini dapat membuat para pelaku pasar serta investor mengetahui perkembangan proses reformasi secara jelas.
Pasalnya, setiap kebijakan yang diambil oleh para regulator memang sangat ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar maupun investor. “Dampaknya kepercayaan bisa meningkat, tapi bertahap seiring dengan kebijakan selangkah demi selangkah yang harus dilakukan oleh pelaku pasar dan investor,” katanya.
Kendati demikian, pasar saham tetap memerlukan sejumlah regulasi pendukung lain agar pengaruh positifnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Nico sendiri memperkirakan pergerakan IHSG mampu menembus angka di atas 7.000 pada akhir tahun 2026, dengan area fluktuasi di kisaran 6.390 hingga 7.470 selama paruh kedua tahun ini.
Di tengah bergulirnya sentimen tersebut, para pemodal diimbau untuk tetap berpegang pada tiga prinsip mendasar.
Aspek tersebut mencakup target investasi, jangka waktu penempatan dana, serta profil risiko masing-masing.
Jika target penanaman modal bersifat jangka pendek dengan profil risiko yang agresif, maka fluktuasi pasar dapat dimanfaatkan sebagai peluang keuntungan.
Sementara itu, apabila orientasi investasi berfokus pada jangka panjang dengan profil risiko konservatif, strategi pengumpulan saham secara bertahap menjadi opsi yang tepat.
Di samping itu, penting bagi pelaku pasar untuk senantiasa mencermati kinerja fundamental serta nilai wajar dari emiten yang diincar.
Skala prioritas utama sebaiknya diarahkan pada saham-saham yang aktif ditransaksikan serta menjadikan daftar HSC sebagai salah satu acuan dalam mengambil keputusan investasi. “Investor juga bisa memanfaatkan rotasi sektoral,” paparnya.