Analisis Pasar 15 Juli 2026 IHSG Berpeluang Menguat Menuju 6150

Analisis Pasar 15 Juli 2026 IHSG Berpeluang Menguat Menuju 6150
Ilustrasi indeks harga saham gabungan (IHSG).(FOTO:NET)

JAKARTA – Pasar saham Wall Street menutup perdagangan hari Selasa (14/7) di zona positif berkat data inflasi yang melandai. Sentimen ini disokong pula oleh aksi beli kembali pada saham-saham di sektor semikonduktor, menurut riset harian BNI Sekuritas.

Tercatat indeks S&P 500 terangkat 0,38%, indeks Nasdaq melonjak 0,9%, dan Dow Jones naik tipis sebesar 0,02%. Laju penguatan bursa Amerika sempat tertahan akibat kejatuhan saham IBM hingga 25% karena penurunan permintaan perangkat lunak.

Kondisi berbeda dialami VanEck Semiconductor ETF (SMH) yang naik 2,5%, serta Applied Materials dan Teradyne yang melesat di atas 3%. Keuntungan juga dibukukan Lam Research dan Micron Technology sebesar 5%, ditemani STMicroelectronics yang naik lebih dari 2%.

Faktor makroekonomi turut mendorong pasar setelah IHK Juni AS turun 0,4% MoM, membuat inflasi tahunan melambat ke level 3,5%. Angka inflasi riil ini berada di bawah ekspektasi pasar yang memprediksi penurunan 0,2% MoM dengan tingkat tahunan 3,8%.

Kondisi ini memicu keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Peluang kenaikan suku bunga pada rapat bulan Juli mendatang kini anjlok dari angka 42% menuju ke level 17%.

Beralih ke sektor perbankan, emiten Goldman Sachs melonjak 9% setelah kinerja laba kuartal ketiganya melewati ekspektasi pasar. Kenaikan di atas 2% juga diikuti oleh saham perbankan besar lain seperti JPMorgan Chase dan Bank of America.

Di wilayah regional, bursa saham Asia bergerak secara variatif dengan kecenderungan menguat pada transaksi perdagangan Senin (14/7). Indeks Nikkei 225 terpantau menguat 0,74% dan indeks Topix Jepang juga mengalami kenaikan sebesar 0,79%.

Bursa Korea Selatan mencatat indeks Kospi naik 0,73%, berbanding terbalik dengan indeks Kosdaq yang terperosok sedalam 1,92%. Sementara indeks Hang Seng Hong Kong terapresiasi 0,52%, Taiex Taiwan menyusut 1,42%, dan indeks ASX 200 Australia bergerak stagnan.

Untuk bursa regional lainnya, Straits Times menguat 0,43% dan indeks pasar saham Malaysia FTSE KLCI mencatatkan kenaikan 1,27%. Pergerakan bursa Asia ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah ke level tertinggi bulanan akibat sentimen geopolitik.

Presiden AS Donald Trump kembali memblokade pelayaran Iran dan berencana memungut biaya 20% bagi kapal di Selat Hormuz. Investor di Asia saat ini juga sedang menanti rilis data indeks harga konsumen terbaru Amerika Serikat.

Kembali ke pasar domestik, IHSG pada perdagangan kemarin (14/7) berakhir naik tipis 0.03% di tengah tekanan jual asing. Investor asing mencatatkan net sell Rp886 Miliar dengan pelepasan terbesar pada BBRI, BMRI, BBCA, ASII, AMMN, dan PGAS.

“IHSG akan tes support di 5980-6000, jika kuat di area tersebut, potensi melanjutkan kenaikan. Diperkirakan Support IHSG: 5980-6000 dan Resist IHSG: 6100-6150,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Guna memanfaatkan momentum pasar hari ini, beberapa instrumen saham direkomendasikan untuk trading seperti EMAS, WIFI, INET, ARCI, HRTA, dan MBMA.

Saham EMAS dapat dibeli dengan skema Spec Buy pada rentang 5675-5725, cutloss di bawah 5625, dan target 5775-5850. Saham WIFI masuk rekomendasi Spec Buy di area 1800-1830, batas cutloss di bawah 1760, serta target sasaran 1850-1890.

Untuk INET, area Spec Buy berada pada level 214-218, batas cutloss di bawah 208, dan target terdekat di posisi 224-232. Sementara saham ARCI disarankan untuk Buy if Break 1050, dengan target terdekat 1065-1120 dan cutloss di bawah 1020.

Emiten HRTA layak dilirik untuk Spec Buy pada area 1810-1840, cutloss jika di bawah 1800, menuju target 1855-1925. Terakhir, MBMA direkomendasikan Spec Buy di batas 505-510, cutloss di bawah 496, dengan target terdekat pada 515-530.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index