Pasar Saham AS Cetak Rekor Baru saat IHSG Diproyeksi Bangkit Kembali

Pasar Saham AS Cetak Rekor Baru saat IHSG Diproyeksi Bangkit Kembali
ILUSTRASI. ihsg : (NET).

JAKARTA - Pergerakan pasar saham global menunjukkan performa positif pada perdagangan Kamis malam. Bursa saham Wall Street terpantau sukses menguat hingga kembali mencetak rekor tertinggi baru.

Peningkatan performa ini sejalan dengan melonjaknya optimisme para pelaku pasar setelah beredarnya laporan terkait tercapainya kerangka kerja awal nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut bertujuan memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali ruang negosiasi terkait program nuklir.

Pada penutupan perdagangan, indeks S&P 500 tercatat naik 0,6 persen ke level 7.563,63. Langkah serupa juga diikuti oleh Nasdaq Composite yang melesat hingga 0,9 persen ke posisi 26.917,47 berkat sokongan dari saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan. Di sisi lain, indeks Dow Jones bergerak menguat tipis sebesar 0,1 persen menuju level 50.668,97.

Kondisi pasar juga ikut terdorong oleh harapan meredanya ketegangan geopolitik serta peluang normalisasi jalur pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz. Kendati demikian, para investor dilaporkan masih terus mengawasi persetujuan final dari Presiden Donald Trump terkait draf perjanjian tersebut.

Saat ini fokus utama dari pelaku pasar global masih tertuju pada dinamika perundingan geopolitik tersebut, pergerakan harga komoditas energi, hingga proyeksi kebijakan suku bunga acuan The Fed. Pasalnya, kondisi ekonomi Amerika Serikat saat ini masih dibayangi oleh inflasi yang tinggi berbarengan dengan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi.

Sentimen positif pasar merangkak naik setelah adanya laporan mengenai kesepakatan awal berdurasi 60 hari yang berpeluang besar membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Dampaknya, harga minyak mentah internasional yang sebelumnya sempat melonjak tajam mulai berbalik terkoreksi.

Penurunan harga komoditas ini dinilai mampu meredam kekhawatiran global terhadap lonjakan inflasi. Namun, sikap waspada tetap ditunjukkan oleh para pelaku pasar mengingat kontak senjata di kawasan Teluk masih terjadi lewat aksi saling serang rudal maupun drone.

Dari sisi indikator makroekonomi, inflasi pengeluaran konsumsi pribadi inti di Amerika Serikat untuk periode April terpantau masih berada di level tinggi yaitu sebesar 3,3 persen secara tahunan. Sementara itu, pertumbuhan produk domestik bruto pada kuartal pertama mengalami revisi turun menjadi 1,6 persen yang memicu kekhawatiran atas fenomena perlambatan ekonomi.

Kondisi tersebut membuat para pelaku pasar mulai memangkas ekspektasi terkait pelonggaran kebijakan moneter atau penurunan suku bunga oleh bank sentral tahun ini, terlebih setelah beberapa pejabat otoritas moneter menegaskan risiko inflasi masih berpotensi merangkak naik.

Pada pasar surat utang, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah. Redanya ekspektasi lonjakan harga energi global membuat imbal hasil obligasi tenor 10 tahun melandai ke kisaran 4,46 persen dari posisi tertingginya dalam 16 bulan terakhir di level 4,7 persen.

Untuk tenor 2 tahun, imbal hasil bergerak turun tipis ke sekitar 4,03 persen. Penurunan ini turut membuat mata uang Dolar AS melemah, di mana Indeks Dolar merosot 0,2 persen ke area 99 seiring dengan beralihnya minat pemodal ke aset-aset yang lebih berisiko.

Pelemahan mata uang Negeri Paman Sam tersebut berhasil dimanfaatkan oleh mata uang Euro dan Poundsterling untuk bergerak menguat. Walau begitu, tingkat volatilitas di pasar valuta asing diproyeksikan masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Beralih ke Benua Biru, bursa saham Eropa mayoritas ditutup melemah tipis meskipun sempat berada di zona hijau pada awal perdagangan. Indeks FTSE 100 di Inggris terpantau terkoreksi 0,7 persen sekaligus menghentikan tren kenaikan beruntun selama delapan hari akibat kejatuhan saham sektor perbankan dan kesehatan.

Di Jerman, indeks DAX 40 mengalami penurunan sekitar 0,3 persen ke posisi 25.103 karena koreksi saham sektor energi dan asuransi. Sementara itu, indeks CAC 40 di Prancis juga ikut melemah tipis sebesar 0,2 persen akibat sikap hati-hati para investor terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah.

Untuk kawasan Asia, pergerakan indeks saham terpantau bervariasi dengan tekanan yang cukup terasa pada sektor teknologi di Jepang dan Korea Selatan. Indeks Nikkei 225 tercatat melemah 0,47 persen dan indeks Topix turun 0,41 persen.

Langkah serupa terjadi pada indeks KOSPI di Korea Selatan yang turun 0,53 persen dari rekor tertinggi sebelumnya setelah adanya pernyataan dari Trump yang mengaku belum puas dengan proses negosiasi perdagangan. Sebaliknya, pasar saham China justru melaju positif di mana Shanghai Composite naik 0,12 persen dan Shenzhen melesat 0,8 persen berkat topangan saham sektor semikonduktor. Untuk pasar saham India terpantau bergerak melemah tipis akibat aksi jual oleh investor asing.

Di pasar komoditas, pergerakan harga minyak mentah dunia memperlihatkan fluktuasi yang cukup dinamis. Jenis minyak Brent sempat menyentuh angka USD 95,97 per barel sebelum akhirnya melandai kembali ke kisaran USD 92 hingga USD 93 per barel.

Di sisi lain, pergerakan harga emas batangan internasional cenderung bergerak stabil. Komoditas perlindungan nilai ini berada di tengah tarik-menarik antara penurunan permintaan aset aman dan masih tingginya risiko ketegangan geopolitik global.

Sementara itu dari dalam negeri, kinerja perdagangan internasional Indonesia untuk periode April 2026 diproyeksikan mengalami peningkatan surplus menjadi sekitar US$3,78 miliar, naik jika dibandingkan dengan pencapaian bulan sebelumnya yang berada di angka US$3,32 miliar.

Perkembangan positif ini disokong oleh masih kuatnya kinerja ekspor untuk komoditas sektor primer. Harga komoditas unggulan seperti batubara, minyak kelapa sawit mentah, nikel, serta produk bijih besi hasil olahan dinilai masih memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional.

Selain itu, pelemahan nilai tukar Rupiah yang terjadi saat ini secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi tingkat daya saing produk-produk hasil industri manufaktur domestik di pasar global.

Di sudut lain, adanya penurunan aktivitas impor turut andil dalam memperlebar jarak surplus perdagangan. Banyak pelaku usaha memilih untuk menunda pembelian barang modal maupun bahan baku dari luar negeri akibat tekanan nilai tukar yang tinggi, khususnya bagi sektor bisnis yang belum menerapkan strategi lindung nilai.

Kondisi kelesuan ini sejalan dengan rilis angka indeks manajer pembelian manufaktur Indonesia untuk periode April 2026 yang kembali terperosok ke zona kontraksi atau di bawah level 50.

Di bidang regulasi, pemerintah telah meresmikan aturan baru berupa Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34 Tahun 2026 yang merupakan langkah revisi atas aturan sebelumnya. Langkah ini diambil demi memperkuat ketahanan energi serta mengakselerasi program transisi energi bersih di dalam negeri.

Melalui kebijakan teranyar ini, pemerintah memperluas cakupan fasilitas pembebasan cukai terhadap pemanfaatan etil alkohol yang diintegrasikan dengan produk hasil penyulingan minyak bumi guna pembuatan bahan bakar nabati.

Pemerintah juga memberikan kelonggaran berupa izin pemanfaatan bersama untuk fasilitas penyimpanan komoditas etil alkohol dalam satu kawasan kerja, yang nantinya akan diawasi secara digital dan langsung oleh pihak Bea Cukai. Langkah strategis ini dipandang mampu memberikan dampak positif bagi ekosistem industri bioenergi serta menarik minat investasi baru.

Kendati demikian, laju kenaikan surplus neraca perdagangan diperkirakan masih akan tertahan akibat proyeksi tingginya volume impor minyak demi memenuhi kebutuhan konsumsi bahan bakar dalam negeri.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali mengalami koreksi cukup dalam hingga mendarat di posisi 6.130,19 atau melemah sebesar 1,23 persen. Indeks gagal mempertahankan tren penguatan setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi tertinggi harian di level 6.286,87.

Tekanan terhadap indeks dipicu oleh masifnya aksi jual bersih oleh investor asing yang menembus angka Rp1,60 triliun. Kondisi ini diperberat oleh posisi nilai tukar Rupiah yang merosot ke level Rp17.784 per Dolar AS, sehingga menekan psikologis pasar saham domestik.

Secara sektoral, hampir seluruh lapangan usaha berakhir di zona merah dengan penurunan paling tajam dialami oleh sektor industri yang anjlok hingga 3,38 persen. Secara analisis teknikal, posisi IHSG saat ini terpantau masih berada dalam jalur tren penurunan dan rawan terkoreksi kembali.

Selama pergerakan indeks masih mampu bertahan di atas area batas bawah di kisaran 6.148 sampai 5.949, maka IHSG dinilai masih mempunyai modal untuk bergerak mendatar atau melakukan kenaikan teknis menuju batas atas di level 6.378 hingga 6.442. Namun, apabila area batas bawah tersebut kembali ditembus, maka indeks berisiko melanjutkan tren pelemahan menuju level 5.882 atau skenario terendah di kisaran 5.800 hingga 5.700.

“Menyikapi beragam kondisi tersebut, Kami menilai bahwa volatilitas JCI akan tetap tinggi dalam jangka pendek, meskipun peluang untuk rebound teknis tetap terbuka selama tidak muncul sentimen negatif baru dari sumber eksternal maupun domestic,” sebut analis pasar dalam risetnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index