Pasar Saham Asia Menanjak Berkat Dorongan Sektor Kecerdasan Buatan

Pasar Saham Asia Menanjak Berkat Dorongan Sektor Kecerdasan Buatan
Ilustrasi Grafik Saham (sumber gambar: NET)

TOKYO - Pasar ekuitas di kawasan Asia dilaporkan melaju menguat secara serentak pada sesi transaksi Senin waktu setempat. Lonjakan tajam melanda bursa saham Jepang yang mampu mencetak rekor tertinggi baru, mengekor tren positif industri cip di Wall Street.

Di samping itu, peluang terwujudnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran turut memicu minat para penanam modal terhadap aset berisiko. Dinamika ini bergulir di tengah kondisi pasar saham AS yang sedang ditutup dalam rangka memperingati hari besar nasional.

Kontrak berjangka Wall Street tetap bergerak menanjak di sepanjang jam perdagangan pasar Asia, yang mana kontrak berjangka Nasdaq membukukan kenaikan melewati 1%. Para pelaku pasar terlihat konsisten mengalihkan kapital mereka ke sektor kecerdasan buatan serta semikonduktor menyusul laporan pendapatan yang positif dari emiten cip AS.

Indeks utama di Jepang, Nikkei 225, melejit sebesar 3,3% hingga menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di posisi 65.408,87 poin. Langkah positif ini juga diikuti oleh indeks TOPIX yang menguat sampai 1,6% ke level 3.953,89 poin yang menjadi pencapaian rekor barunya.

Pendorong utama dari lonjakan di bursa Jepang ini ditopang oleh saham-saham yang berhubungan erat dengan sektor cip dan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Sektor ini merespons sentimen positif dari penguatan korporasi semikonduktor di AS pada akhir pekan sebelumnya.

Secara keseluruhan, zona hijau juga melingkupi bursa saham Asia lainnya. Indeks Shanghai Composite di China merangkak naik sebesar 0,6%, sedangkan indeks Shanghai Shenzhen CSI 300 terpantau menguat hingga 1,0%.

Pada wilayah lain, indeks S&P/ASX 200 di bursa Australia terangkat sebesar 0,5%, diikuti oleh Indeks Straits Times Singapura yang menguat 0,4%. Sementara itu, indeks Nifty 50 di pasar India langsung melonjak 1,0% di awal sesi, sedangkan pasar Hong Kong dan Korea Selatan sedang tutup lantaran hari libur.

Kondisi psikologis pasar kian membaik setelah adanya pernyataan dari Presiden AS Donald Trump mengenai nota kesepahaman untuk membuka kembali akses Selat Hormuz yang sebagian besar telah dinegosiasikan. Hal ini memicu optimisme akan meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap bersikap waspada terhadap potensi perubahan situasi yang mendadak. Hal ini terjadi setelah adanya peringatan susulan agar proses penyelesaian kesepakatan tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa.

Sentimen tersebut langsung direspons oleh sektor komoditas yang mana harga minyak dunia mengalami kejatuhan yang cukup dalam. Penurunan ini didorong oleh ekspektasi bahwa kesepakatan politik itu akan menstabilkan kembali pasokan energi di jalur pelayaran utama global.

Harga minyak mentah jenis Brent merosot lebih dari 4% hingga berada di bawah level USD100 per barel. Penurunan harga ini secara langsung mengurangi beban kekhawatiran terhadap inflasi global yang sempat memberikan tekanan besar pada pasar modal belakangan ini.

Sejumlah pengamat pasar menilai bahwa pergerakan bursa saat ini masih sangat sensitif terhadap dinamika kabar seputar negosiasi wilayah Iran. Selain itu, proyeksi tingkat suku bunga global serta tingginya harga energi tetap menjadi perhatian utama karena berpotensi membayangi prospek ekonomi ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index