Tekanan Geopolitik Picu Rupiah Merosot ke Level Rp17.781 per Dolar AS

Tekanan Geopolitik Picu Rupiah Merosot ke Level Rp17.781 per Dolar AS
Ilustrasi nilai tukar rupiah(sumber foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar mata uang Indonesia diprediksi bakal kembali menghadapi tekanan yang amat berat dalam proses perdagangan sepanjang hari ini. Minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat mata uang garuda sangat rentan meneruskan tren penurunan nilainya di hadapan dolar Amerika Serikat.

Jika merujuk pada pergerakan aktivitas perdagangan di pasar luar negeri, pergerakan kontrak rupiah pada pasar Non-Deliverable Forward sempat menunjukkan posisi stagnan di angka Rp17.761/US$. Kondisi tersebut terlihat pada Selasa pagi, 26 Mei 2026 ketika pasar finansial mulai dibuka.

Akan tetapi, beberapa saat kemudian atau seputar pukul 07:32 WIB, posisi mata uang Indonesia dilaporkan melosor sebesar 0,11 persen ke level Rp17.781/US$. Penurunan nilai ini berjalan di tengah situasi ekonomi global yang sejatinya tengah memperlihatkan tanda-tanda pelandaian.

Sebab, indeks dolar AS sendiri terpantau mengalami koreksi tipis ke angka 99,23. Pada momen yang bersamaan, harga komoditas minyak mentah dunia juga mencatatkan penurunan yang sangat dalam sebesar 7,15 persen menuju level US$96,14 per barel.

Goyangan kuat terhadap laju rupiah pada masa ini dominan disebabkan oleh eskalasi konflik geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah. Kabar terkini mengungkapkan adanya tindakan militer dari Amerika Serikat bersama Israel yang menyasar aset milik Iran.

Jet tempur dari kedua negara tersebut diinformasikan melepaskan gempuran udara ke arah beberapa armada kapal militer Iran di wilayah krusial Selat Hormuz. Kejadian ini berlangsung sesaat setelah adanya pernyataan yang cukup optimistis dari pihak Gedung Putih.

Sebelum peristiwa tersebut terjadi, Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa proses diplomasi mengenai kesepakatan temporer dengan Teheran tengah menuju arah yang positif. Namun, serangan udara yang terjadi mendadak ini langsung mengubah arah pandangan pasar secara drastis.

Mengutip laporan dari media lokal setempat, titik gempuran udara tersebut berlokasi di area selatan Pulau Karak, kawasan Selat Hormuz. Operasi bersenjata ini dikabarkan merenggut nyawa beberapa personel militer Iran yang tengah berjaga di lokasi tersebut.

Terulangnya bentrokan senjata di area Teluk Persia ini menjadi tanda nyata bahwa stabilitas keamanan di wilayah tersebut masih sangat rapuh. Harapan para pelaku pasar terhadap terciptanya perdamaian jangka panjang antara AS dan Iran kini kembali diragukan secara luas.

Padahal pada periode sebelumnya, sentimen perdamaian sempat membawa angin segar bagi mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah. Saat ini, pergerakan justru berbalik arah seiring dibukanya perdagangan di beberapa negara pagi ini dengan tingkat risiko yang merangkak naik.

Kondisi nilai tukar rupiah saat sekarang memang tengah memicu kekhawatiran besar karena telah menyentuh posisi paling lemah dalam sejarah. Penurunan nilai ini tetap terjadi kendati imbal hasil Surat Utang Negara terpantau mengalami penurunan.

Berikut adalah rincian indikator pasar yang memberikan pengaruh terhadap pergerakan nilai tukar pada saat ini:

Nilai Kurs NDF Rupiah: Berada di level Rp17.781 per dolar AS atau melemah 0,11 persen pada pembukaan perdagangan pagi

Indeks Dolar AS: Bertahan di level 99,23 setelah sempat mengalami sedikit penurunan tipis dari posisi sebelumnya

Harga Minyak Dunia: Merosot tajam sebesar 7,15 persen ke level US$96,14 per barel akibat ketidakpastian permintaan global

Status Geopolitik: Eskalasi serangan udara di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi global

Deretan data di atas memperlihatkan fenomena yang tidak biasa karena rupiah tetap melemah di saat komoditas minyak dunia turun dan indeks dolar AS tertekan tipis. Faktor risiko keamanan global tampaknya lebih mendominasi pertimbangan pelaku pasar dalam memegang aset di negara berkembang.

Penurunan nilai mata uang rupiah ini pun mulai membawa dampak yang nyata bagi kelangsungan berbagai bidang usaha di dalam negeri. Warga masyarakat bersama para pelaku bisnis skala kecil mulai merasakan kenaikan ongkos operasional karena bergantung pada bahan baku impor.

Salah satu sektor yang terkena dampak langsung adalah usaha perbengkelan serta penyedia suku cadang kendaraan yang mengalami kenaikan harga modal. Pada sektor pangan, para pedagang bawang di wilayah Jakarta juga sudah mulai mengeluhkan kenaikan harga menjelang momen Iduladha.

Di sudut lain, pihak parlemen memberikan pandangan bahwa ada kekeliruan persepsi di tengah masyarakat luas mengenai fenomena penurunan rupiah saat ini. Mereka menegaskan bahwa situasi yang berjalan sekarang tidak bisa disamakan dengan krisis moneter yang melanda pada tahun 1998 silam.

Meski begitu, tekanan terhadap mata uang garuda ini diprediksi masih berpotensi berlanjut jika eskalasi militer di Timur Tengah terus meluas. Para pelaku pasar memiliki kecenderungan untuk memindahkan dana ke aset aman sampai situasi keamanan dunia kembali kondusif.

Berikut adalah informasi mengenai ringkasan indikator ekonomi yang berkaitan:

Indikator: Nilai Tukar (NDF) Kondisi Saat Ini: Rp17.781/US$ Dampak Terhadap Rupiah: Negatif (Rekor Terlemah)

Indikator: Harga Minyak Mentah Kondisi Saat Ini: US$96,14/barel Dampak Terhadap Rupiah: Netral ke Positif

Indikator: Indeks Dolar (DXY) Kondisi Saat Ini: 99,23 Dampak Terhadap Rupiah: Positif Terbatas

Indikator: Ketegangan Geopolitik Kondisi Saat Ini: Meningkat (Selat Hormuz) Dampak Terhadap Rupiah: Sangat Negatif

Gambaran di atas memetakan aneka variabel yang saling memengaruhi satu sama lain dalam menetapkan posisi kurs rupiah di pasar global. Walaupun beberapa fondasi ekonomi domestik dinilai berada dalam posisi kokoh, faktor eksternal seperti konflik bersenjata tetap menjadi risiko utama yang sulit dihindari.

Para pelaku pasar saat ini tengah menanti langkah kebijakan strategis dari otoritas moneter untuk meredam gejolak nilai yang berlebihan pada rupiah. Menjaga stabilitas nilai tukar menjadi hal krusial agar dampak inflasi dari barang impor tidak makin mengikis daya beli masyarakat luas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index