Rupiah Berpotensi Menguat Terbatas ke Rp17.650 per Dolar AS

Rupiah Berpotensi Menguat Terbatas ke Rp17.650 per Dolar AS
ilustrasi rupiah dan dollar (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah di pasar luar negeri atau offshore menunjukkan kecenderungan bergerak dalam rentang yang terbatas pada pembukaan pekan terakhir Mei 2026.

Kondisi tersebut terjadi setelah mata uang domestik sempat berada di bawah tekanan pada penutupan transaksi akhir pekan lalu.

Pada perdagangan Senin pagi, 25 Mei 2026 pukul 08:03 WIB, rupiah offshore terpantau mengalami penguatan sebesar 0,11 persen.

Sesi tersebut membawa rupiah ke angka Rp17.724 per dolar AS, jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Jumat, 22 Mei 2026 yang sempat tertahan di level Rp17.743 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat yang diukur terhadap enam mata uang utama dunia memperlihatkan penurunan tipis sebesar 0,23 persen, meskipun posisinya masih berada di kisaran level 99.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent bergerak melandai ke angka US$98,66 per barel pada pukul 07:11 WIB.

Adanya penurunan pada harga komoditas minyak mentah dunia ini dipengaruhi oleh perkembangan situasi kesepakatan damai antara pihak Amerika Serikat dan Iran yang dikabarkan mulai mendekati hasil akhir.

Saat ini, kedua belah negara tersebut sedang menyusun redaksi kalimat yang tepat untuk poin-poin yang dianggap krusial.

Proses ini diperkirakan masih membutuhkan waktu dalam beberapa hari ke depan agar bisa mendapatkan persetujuan yang bersifat final.

Walaupun otoritas berwenang dari Amerika Serikat menyebutkan belum terdapat dokumen resmi yang dapat ditandatangani, media lokal di Iran mengabarkan bahwa draf kesepakatan tersebut dinilai masih rawan mengalami kegagalan.

Hal ini disebabkan oleh adanya hambatan terkait klausul mekanisme pencairan aset milik pihak Teheran.

Terlepas dari dinamika yang sedang berlangsung, kabar perkembangan tersebut tetap memberikan dampak positif bagi sejumlah mata uang di wilayah Asia.

Beberapa mata uang seperti dolar Singapura, yen Jepang, ringgit Malaysia, yuan offshore, hingga dolar Hong Kong terlihat kompak berada di zona hijau.

Kendati mata uang di kawasan regional mengalami penguatan, laju gerak rupiah pada hari ini dinilai masih dibayangi oleh sentimen dari dalam negeri terkait permasalahan fiskal serta rilis data laporan neraca pembayaran Indonesia.

Kondisi terkait stabilitas eksternal dalam negeri saat ini terlihat semakin bergantung pada performa transaksi modal dan finansial.

Sebab, instrumen investasi langsung atau foreign direct investment dilaporkan mengalami perlambatan ke angka US$2 miliar dari capaian kuartal sebelumnya yang sebesar US$3,2 miliar.

Apabila ditinjau secara teknikal, mata uang garuda dinilai masih mempunyai celah untuk menguat secara terbatas karena mendapatkan dorongan dari tren positif mata uang regional, terutama mata uang yuan China.

Nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk bergerak menuju area resistance paling dekat yang berada pada level Rp17.650 per dolar AS.

Jika tren berlanjut, target resistance berikutnya diperkirakan berada pada kisaran Rp17.600 per dolar AS.

Untuk proyeksi pergerakan mata uang domestik dalam jangka waktu satu pekan ke depan, level Rp17.500 per dolar AS menjadi titik acuan yang dinilai paling optimistis.

Namun, jika nilai tukar justru berbalik arah dan melemah hingga menembus level support terkuatnya di angka Rp17.720 per dolar AS, kondisi ini akan mengonfirmasi pergerakan menuju batas support berikutnya di level Rp17.770 per dolar AS.

Sedangkan untuk batas support psikologis diperkirakan akan berada pada posisi Rp17.800 per dolar AS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index