JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini berpotensi mengalami fluktuasi dengan kecenderungan ditutup melemah.
Mata uang Garuda diprediksi akan bertransaksi pada kisaran antara Rp17.600 sampai Rp17.750 per dolar AS.
Pada sesi perdagangan hari Selasa, 19 Mei 2026, mata uang rupiah ditutup terkoreksi sebesar 0,22 persen ke posisi Rp17.700 per dolar AS.
Penurunan ini selaras dengan pelemahan yang melanda sebagian besar mata uang di Asia lainnya.
Mata uang yen Jepang terpantau melemah 0,22 persen, yuan China turun 0,05 persen, dolar Singapura menyusut 0,22 persen, dan won Korea anjlok 1,24 persen.
Tercatat pula dolar Hong Kong turun sebesar 0,03 persen, diikuti oleh dolar Taiwan yang melemah sebesar 0,33 persen.
Di samping itu, rupee India terkoreksi 0,10 persen, ringgit Malaysia melemah 0,03 persen, peso Filipina jatuh 0,20 persen, serta baht Thailand merosot 0,31 persen.
Meskipun ketegangan geopolitik global dilaporkan mulai agak mereda, tekanan dari sentimen internal masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah.
Pasar saham dalam negeri pun masih tertekan oleh aksi jual investor, yang akhirnya membatasi ruang bagi rupiah untuk menguat.
Kini para pelaku pasar sedang mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang rencananya diumumkan besok.
Bank sentral diproyeksikan akan mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk mengamankan stabilitas nilai tukar dan menahan tekanan pasar.
Bukan cuma kebijakan suku bunga, investor pun menunggu arah pernyataan resmi bank sentral demi memulihkan kepercayaan di pasar keuangan.
Langkah yang lebih hawkish dari otoritas moneter tersebut dipandang mampu memberikan stimulus positif bagi penguatan rupiah untuk jangka pendek.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa tekanan jual pada pasar surat berharga negara saat ini masih tergolong minim dan dapat dikontrol.
Pihak kementerian sejatinya telah mengalokasikan dana sekurangnya Rp2 triliun per hari guna mengeksekusi pembelian kembali di pasar sekunder.
Kendati demikian, jumlah realisasi dari penyerapan dana tersebut rupanya masih berada jauh di bawah target awal yang ditetapkan.
"Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, [tetapi] hanya dapat Rp600 miliar. Artinya, yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kami memastikan harga bond [obligasi] tetap terkendali itu," kata Purbaya.
Kebijakan intervensi pada pasar obligasi ini dijalankan lantaran masih bergulirnya arus modal keluar oleh investor asing dari pasar surat berharga negara.
Berdasarkan data, terhitung sejak awal tahun hingga 24 April 2026, modal asing yang keluar dari pasar obligasi negara sudah menembus angka Rp20 triliun.