Menkeu Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,6 Persen di Triwulan I

Menkeu Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,6 Persen di Triwulan I
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa.

JAKARTA - Kondisi fundamental perekonomian Indonesia dipastikan tetap berada dalam posisi yang kokoh. Kendati nilai tukar mata uang rupiah sempat tertekan hingga menembus angka Rp17.600 per dolar AS, keadaan dinilai masih berada dalam batas aman.

Tudingan dari sejumlah kalangan yang menyatakan bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tengah menghadapi persoalan besar pun langsung ditepis dengan tegas.

"Fundamental ekonomi kami bagus, fiskal kami bagus. Besok saya akan jumpa pers masalah APBN. APBN kami yang sebagian majalah ekonomi bilang berantakan, nggak, kami bagus sekali dan mereka nggak ngerti apa yang kami kerjakan," kata Purbaya.

Kondisi keuangan negara dipastikan masih berada dalam kendali yang sangat aman. Defisit pada anggaran belanja negara dipastikan tetap berada di bawah ambang batas aman yang ditetapkan, yakni sebesar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"fiskal kami masih bisa dikendalikan di bawah 3% PDB. Tahun lalu bukan 2,9 loh, 2,8% dari PDB defisitnya. Jadi nggak ada masalah. Sekarang pun kami hitung defisitnya berapa," kata Purbaya.

"Jadi kalau ekonom memandang kebijakan fiskal kami berantakan, mereka suruh lihat deh kebijakan negara-negara Eropa berapa defisitnya. Utangnya berapa. Itu mendekati 100% semua dari PDB, utang kami masih 40. Kami masih bagus, harusnya ekonom memuji kami," ujar Purbaya.

Keadaan ekonomi dalam negeri diyakini akan terus menunjukkan tren positif ke depan, walaupun situasi global saat ini sedang dipenuhi dengan ketidakpastian. Publik pun diminta untuk tidak cemas dalam merespons situasi yang ada saat ini.

"Jangan khawatir. Kami betul-betul memperbaiki ekonomi dan sudah kelihatan di triwulan keempat dan triwulan pertama tahun ini kami sudah tumbuh semakin cepat dan kami akan jaga terus supaya lebih cepat lagi," ujarnya.

Segenap program kerja yang direalisasikan oleh jajaran pemerintah saat ini diklaim telah melewati proses kalkulasi yang sangat cermat. Hal inilah yang menjaga ketahanan fiskal domestik tetap kokoh dari berbagai tekanan eksternal.

"Semuanya sudah kami hitung dengan, dengan baik."

Pemerintah tidak sekadar bertumpu pada sektor pembelanjaan negara saja, melainkan aktif mendorong partisipasi dari sektor swasta. Langkah strategis ini dinilai telah membuahkan hasil nyata bagi perputaran ekonomi nasional.

"Strategi kami bukan hanya belanja pemerintah, tapi kami juga mengaktifkan sektor swasta. Makanya pertumbuhan ekonomi bisa 5,6% triwulan pertama karena swasta juga mulai bergerak, bukan hanya government saja," ujarnya.

Realisasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri pada triwulan I-2026 yang menembus angka 5,6 persen dianggap sebagai sebuah capaian yang besar. Angka positif ini sukses ditorehkan di saat kondisi perekonomian dunia tengah diguncang ketidakpastian.

"Triwulan pertama kami tumbuh 5,6% ketika perekonomian global lagi goncang. Jadi itu suatu prestasi yang luar biasa karena kebijakan Pak Presiden melakukan reformasi betul-betul dilakukan sebelum ada negative shock dari global. Jadi strategi pembangunannya amat baik dari Bapak Presiden," terang Purbaya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index