JAKARTA - Rupiah baru saja menyentuh rekor nilai terendah sepanjang sejarah dengan melewati angka Rp 17.400 per dollar AS. Kondisi ini memicu pertanyaan apakah pelemahan tersebut merupakan fluktuasi normal atau tanda bahaya bagi ekonomi.
Data pasar spot pada Selasa (5/5) menunjukkan rupiah berada di level Rp 17.424 per dollar AS. Angka yang serupa juga terlihat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang mencatatkan posisi Rp 17.425 per dollar AS.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, berpendapat bahwa situasi ini bukan sekadar masalah nilai tukar. Hal ini menandakan pasar sedang menguji kepercayaan terhadap kebijakan fiskal dan moneter di tanah air.
"Jadi, pelemahan rupiah saat ini harus dibaca sebagai alarm bahwa pasar sedang menguji kredibilitas bauran kebijakan fiskal-moneter Indonesia," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (5/5).
M. Rizal Taufikurahman menjelaskan bahwa tekanan pada rupiah muncul saat indeks dollar (DXY) sebenarnya sedang menurun. Ini mengindikasikan bahwa penyebab utama pelemahan mata uang Garuda berasal dari faktor internal negeri sendiri.
Pasar saat ini memberikan premi risiko lebih besar untuk Indonesia akibat pelebaran defisit fiskal dan naiknya kebutuhan dana APBN. Selain itu, tingginya harga minyak serta beban subsidi energi turut menggerus kepercayaan para investor.
Kondisi diperparah dengan adanya aksi jual bersih oleh pihak asing di bursa saham. Akibatnya, masuknya dana asing ke pasar obligasi pada bulan April tidak mampu memberikan tenaga tambahan bagi penguatan nilai tukar rupiah.
M. Rizal Taufikurahman menilai sebagian dana yang masuk hanya bersifat jangka pendek. Di sisi lain, permintaan valuta asing untuk impor energi, cicilan utang, serta pengiriman dividen ke luar negeri tetap tinggi secara struktural.
Dalam proyeksi dasar, rupiah diperkirakan bertahan pada rentang Rp 17.000 hingga Rp 17.500 per dollar AS sampai akhir tahun. Namun, angka ini bisa merosot lebih dalam jika beban fiskal terus membengkak dan modal asing keluar.
"Namun, jika tekanan fiskal membesar, yield SBN naik, dan aliran modal asing keluar lebih deras, rupiah bisa menembus Rp 17.500," tegasnya.
Pada kemungkinan terburuk, M. Rizal Taufikurahman memperingatkan rupiah bisa menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS. Skenario ini terjadi jika kenaikan harga minyak, defisit APBN, dan hengkangnya investor terjadi secara simultan.
"Ini bisa terjadi jika tiga tekanan terjadi bersamaan: harga minyak tetap tinggi, defisit APBN melebar, dan investor asing keluar dari saham maupun SBN," katanya.
Walau begitu, peluang untuk pulih ke level Rp 16.500 per dollar AS tetap ada meski tidak bisa hanya bertumpu pada intervensi Bank Indonesia. Dibutuhkan pengendalian defisit fiskal dan penguatan cadangan devisa yang stabil.
M. Rizal Taufikurahman juga menekankan pentingnya hasil evaluasi peringkat utang oleh S&P pada bulan Mei ini. Jika pasar melihat risiko fiskal terus naik, maka pelarian modal akan didorong oleh keraguan terhadap fundamental dalam negeri.