NEW YORK – Kondisi pasar keuangan global saat ini dinilai sedang berada dalam tahap yang sangat mengkhawatirkan karena mengabaikan realitas krisis. Para pemodal seolah-olah berjalan dalam tidur atau sleepwalking menuju jurang resesi ekonomi yang dalam tanpa mereka sadari sepenuhnya.
Fenomena ini merujuk pada kondisi medis somnambulisme di mana seseorang bergerak tanpa kesadaran, mirip dengan perilaku investor saat ini. Ketidakpedulian pasar terhadap gejolak di Timur Tengah dipandang sebagai sebuah anomali yang bisa berakhir dengan guncangan hebat.
Amrita Sen berpendapat bahwa euforia yang terjadi di lantai bursa sekarang benar-benar tidak sejalan dengan apa yang terjadi pada sektor energi. Pendiri sekaligus direktur riset Energy Aspects tersebut melihat ada jurang lebar antara harga aset dengan fakta lapangan.
Meskipun harga minyak mentah sudah terbang lebih dari 50 persen sejak Februari, indeks S&P 500 justru sempat menyentuh rekor tertingginya. Kejadian pada awal Mei tersebut menunjukkan betapa pasar saham seolah kebal terhadap risiko biaya energi yang membengkak.
“Ini menjadi teka-teki terbesar kami. Harga minyak seharusnya lebih tinggi dan pasar saham jauh lebih lemah,” ujar Sen, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Selasa (05/05).
Pernyataan tersebut menunjukkan keheranan mendalam dari para ahli mengenai logika yang digunakan oleh para pelaku pasar global sekarang. Banyak investor yang terjebak dalam rasa percaya diri berlebihan dan menganggap krisis energi hanya akan melokalisasi di wilayah Asia.
Padahal, gangguan pada rantai pasok minyak dan gas akan berdampak secara sistemik ke seluruh penjuru ekonomi dunia tanpa terkecuali. Amrita Sen menilai optimisme yang beredar di kalangan investor saat ini merupakan bentuk kegembiraan yang didasarkan pada landasan yang salah.
“Ini adalah krisis energi besar-besaran. Saya terkejut pasar saham justru mengabaikannya dan fokus pada kinerja kuartal pertama. Kinerja kuartal kedua tidak akan sekuat itu,” tegasnya, menurut sumber tersebut, Selasa (05/05).
Ketegasan Sen ini didasari oleh data bahwa langkah OPEC untuk menambah produksi sebenarnya tidak memberikan dampak yang signifikan bagi pasar. Pasokan tambahan yang dijanjikan hanya dianggap sebagai simbol tanpa kekuatan nyata untuk menutup lubang kekurangan suplai global.
Perhatian dunia kini tersita pada nasib Selat Hormuz yang menjadi urat nadi utama bagi distribusi energi ke berbagai negara. Jika jalur vital ini terhenti dalam waktu lama, masyarakat dunia mungkin terpaksa memangkas konsumsi energi ke level sepuluh tahun lalu.
Penurunan konsumsi hingga 10 juta barel per hari menjadi konsekuensi logis yang harus dihadapi jika pasokan terus mengalami hambatan serius. Analis memprediksi bahwa harga minyak dunia akan menemukan titik terendah baru yang jauh lebih mahal dari standar sebelumnya.
Kenaikan harga minyak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel akan memicu efek domino yang merusak di berbagai sektor industri. Sektor kimia, manufaktur, hingga produksi pupuk akan terkena dampak langsung dari tingginya biaya bahan baku dan operasional energi.
Amrita Sen juga menyoroti potensi krisis lanjutan yang akan menghantam sektor pemenuhan kebutuhan dasar manusia secara global yakni masalah pangan. Kelangkaan gas alam akan membuat distribusi urea terganggu sehingga produktivitas pertanian global dipastikan akan menurun dengan sangat drastis.
Kondisi ini diperparah dengan pandangan para ekonom yang melihat tekanan inflasi mulai menjalar ke industri penerbangan yang sangat sensitif energi. Jens Eisenschmidt berpendapat bahwa tekanan mulai menyebar ke berbagai sektor, mulai dari maskapai hingga manufaktur.
Ekonom dari Morgan Stanley tersebut melihat bahwa dunia kini sedang berlari mendekati momen krusial yang ia sebut sebagai hari penghakiman. Jika konflik di Timur Tengah tidak segera menemui titik temu, inflasi akan menjadi penyakit permanen yang sulit untuk disembuhkan.
Keterkaitan antara konflik geopolitik dengan dompet masyarakat umum melalui harga pangan dan energi kini sudah di depan mata. Namun, layar monitor di bursa saham masih menampilkan warna hijau yang menipu banyak mata pelaku pasar modal dunia.
Ketidakseimbangan ini menciptakan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan portofolio investasi yang tidak dipersiapkan dengan mitigasi risiko. Para ahli menyarankan agar investor mulai membuka mata terhadap realitas bahwa kinerja kuartal kedua tidak akan seindah masa lalu.
Pesan utamanya adalah bahwa pasar global tidak bisa terus menerus berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja di tengah bara api krisis. Diperlukan kewaspadaan tinggi agar transisi ekonomi tidak berakhir menjadi kepanikan massal saat harga energi benar-benar tak terkendali lagi.