LRT Haga-Utsunomiya Pakai Skema Pisah Aset, Tarif 400 Yen Kalahkan Bus

Sabtu, 19 September 2026 | 16:39:00 WIB
LRT Haga-Utsunomiya Pakai Skema Pisah Aset, Tarif 400 Yen Kalahkan Bus

BULETINFINANSIAL.COM — Proyek LRT Haga-Utsunomiya di Prefektur Tochigi, Jepang, memakai skema pembiayaan "Publicly Built, Privately Operated Vertical Separation" dengan total anggaran 68,4 miliar yen. Pemerintah kota menanggung seluruh pembangunan infrastruktur, sementara operator swasta hanya menyewa armada dan menjalankan layanan harian. Skema itu membuat tarif LRT untuk jarak yang sama jauh lebih murah dibanding naik bus.

Pemerintah Kota Utsunomiya dan Haga memikul beban modal terbesar proyek ini. Rel, depo, pemberhentian, hingga kepemilikan 17 rangkaian trem ada di tangan pemerintah daerah, bukan operator.

Utsunomiya Light Rail Co., Ltd. kemudian menyewa rangkaian trem itu dan membayar biaya penggunaan kepada pemerintah. Karena aset tetap dikuasai negara, operator swasta hanya menanggung biaya operasional sehari-hari seperti tenaga kerja.

Skema pemisahan aset dan operasional semacam ini jarang dipakai pada proyek transportasi. Beban modal yang berat dipindahkan ke APBD, sementara risiko bisnis harian tetap dijalankan perusahaan swasta.

Siapa yang Menanggung Beban 68,4 Miliar Yen

Total anggaran proyek mencapai 68,4 miliar yen. Sekitar separuh ditanggung subsidi pemerintah pusat, sisanya dibagi ke Kota Utsunomiya dan Haga.

Porsi Kota Utsunomiya sekitar 31 miliar yen. Angka itu ditutup lewat obligasi daerah yang dicicil sekitar 20 tahun.

Cicilan tahunan terbesar sekitar 1,3 miliar yen. Menurut Suzuki Kenichi, angka itu hanya sekitar 0,6 persen dari skala anggaran kota per tahun.

"Karena pemerintah membangun biaya infrastruktur yang paling mahal, biaya yang ditanggung Utsunomiya Light Rail sebagian besar cuma biaya tenaga kerja," kata Suzuki Kenichi saat menerima peserta training sektor kereta api yang diikuti Dirjen Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub di Utsunomiya.

Dari alokasi anggaran, 61,1 miliar yen habis untuk membangun infrastruktur seperti rel dan pemberhentian LRT. Sisanya sekitar 7,3 miliar yen dipakai membeli 17 rangkaian trem yang kini beroperasi.

Tarif 400 Yen, Separuh Ongkos Bus

Rute LRT membentang 14,6 kilometer. Tarifnya dihitung berdasarkan jarak, tanpa skema subsidi tiket.

Dari pintu timur Stasiun Utsunomiya sampai titik akhir di kawasan industri Haga-Takanezawa, penumpang membayar 400 yen. Untuk jarak yang sama, naik bus menelan biaya 900 yen hingga 1.000 yen.

Perpanjangan rute ke kawasan industri Haga lahir dari permintaan resmi Pemerintah Haga pada 2013. Kawasan itu menampung sekitar 20 ribu pekerja, banyak yang tinggal di Utsunomiya.

Permintaan itu diterima karena permintaan penumpangnya bisa diprediksi jelas, bukan taksiran spekulatif.

Kartu Totra dan Listrik dari Sampah

LRT ini memakai kartu pembayaran bernama totra yang mengintegrasikan fungsi kartu Suica milik jaringan kereta JR. Warga berusia 70 tahun ke atas mendapat 10 ribu poin dari Kota Utsunomiya setiap April.

Poin itu bisa dipakai naik LRT, taksi, atau bus. Lansia juga mendapat tarif harian maksimum 500 yen, berapa pun jarak yang ditempuh.

"Semua pemberhentian LRT bisa diakses lewat ramp dan lantai trem ini sejajar penuh dengan peron, sehingga penumpang naik dan turun tanpa ada perbedaan ketinggian sama sekali," jelas Suzuki.

Pasokan listriknya 100 persen dari energi terbarukan. Sumbernya fasilitas pengolahan sampah Clean Park Mobara di selatan Utsunomiya, ditambah panel surya di atap rumah warga.

Sampah yang dibakar menghasilkan panas, lalu diubah menjadi listrik. Listrik itu dipakai untuk LRT, kantor balai kota, hingga bus listrik milik perusahaan swasta.

Rencana Perpanjangan 5 Kilometer

Pada Oktober 2025, perusahaan mengajukan rencana perpanjangan rute sejauh 5 kilometer ke pemerintah pusat. Jalur baru akan melintasi Stasiun Utsunomiya milik JR ke sisi barat kota.

Jalur itu akan melewati bagian atas rel kereta lokal JR dan menembus bawah rel Shinkansen. Total jarak operasional ditargetkan mencapai sekitar 20 kilometer.

Proyeksi penumpang harian setelah perpanjangan sekitar 31 ribu orang. Segmen pelajar SMA di sisi barat stasiun jadi pengguna utama yang dibidik.

Sejak 2008, proyek ini diposisikan sebagai inti strategi Network-type Compact City. LRT menjadi sumbu transportasi publik arah timur-barat, melengkapi jalur JR yang membentang utara-selatan.

Pemerintah kota juga menata ulang rute bus, menghadirkan transportasi lokal untuk area tanpa bus, dan membangun pusat transit agar perpindahan antarmoda lebih mudah.

Bagi kota-kota daerah di Jepang yang penduduknya menyusut dan menua, model pembiayaan ini menawarkan cara lain menahan ketergantungan pada mobil pribadi tanpa membebani operator swasta dengan biaya modal.

Terkini