Nilai Tukar Rupiah Melemah ke 17.730 Mengantisipasi Kebijakan The Fed

Rabu, 16 September 2026 | 13:22:01 WIB
Ilustrasi Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Gerak nilai tukar mata uang rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) lesu pada pembukaan sesi transaksi Rabu, (16/9/2026).

Kondisi ini dipengaruhi oleh potensi kenaikan tingkat suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Merujuk informasi Antara, nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS susut 36 poin atau 0,20% menuju posisi 17.730 per dolar AS jika dibandingkan penutupan sebelumnya pada level 17.694 per dolar AS.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh global, (yakni) antisipasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan hari ini waktu AS di mana 100% survei pelaku pasar memperkirakan 25 bps (basis points) kenaikan menjadi 4 persen didorong oleh harga minyak yang masih di level US$ 105 per barel,” ujar perwakilan dari sumbernya dikutip dari Antara.

Mengutip laporan Kantor Berita China Xinhua, sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh agenda Federal Open Market Committee (FOMC), yang mengawali rapat kebijakan periode September pada Selasa, 15 September 2026.

Menyusul rilis data inflasi yang tinggi selama beberapa bulan, para pelaku pasar meyakini penuh bahwa otoritas bank sentral akan menaikkan suku bunga sewaktu pertemuan itu berakhir pada Rabu, 16 September 2026.

Dilihat dari sudut sentimen domestik, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada pekan depan dihadapkan pada gempuran tekanan eksternal, sikap The Fed yang hawkish, tren kenaikan inflasi, hingga ruang fiskal pemerintah yang makin terbatas untuk mentransmisi selisih harga minyak dengan tolok ukur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di level 70 dolar AS per barel.

Beriringan dengan situasi itu, pergerakan rupiah diprediksi berada pada kisaran 17.690 - 17.750 per dolar AS.

Sebelumnya, nilai mata uang rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) sudah melemah pada sesi perdagangan Selasa, (15/9/2026).

Analis menilai, beban terhadap posisi rupiah terbayang oleh eskalasi konflik geopolitik di wilayah Asia Barat.

Mengutip data Antara, nilai tukar rupiah atas dolar AS turun 25 poin atau 0,14% menuju level 17.694 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya pada 17.669 per dolar AS.

Patokan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut bergerak merosot ke posisi 17.687 per dolar AS dari pencapaian sebelumnya 17.635 per dolar AS.

Analis valuta asing sekaligus perwakilan dari sumbernya menjelaskan, tekanan atas rupiah terbayang oleh memanasnya konflik geopolitik di area Asia Barat.

"Kelompok Houthi (Ansarullah) di Yaman melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi pada Senin, 14 September 2026, sembari memperkuat posisi mereka di titik-titik strategis di sepanjang Laut Merah," kata pihak dari sumbernya dikutip dari Antara.

Penempatan pasukan pada posisi-posisi tersebut juga dinilai memungkinkan kelompok itu meluncurkan lebih banyak agresi ke arah kapal-kapal yang melewati Selat Bab al-Mandab, sehingga mengancam kelancaran jalur pasokan minyak di area sekitarnya.

Usai pihak Ansarullah Yaman melumpuhkan fungsi operasional pipa minyak lintas-negara (timur-barat) kepunyaan Riyadh pada pekan lalu, jajaran analis memperkirakan perkembangan ini dapat mengganggu tambahan 4-5 persen dari ketersediaan pasokan minyak global.

Sentimen tambahan datang dari penundaan proses perundingan mengenai Selat Hormuz antara pihak Iran dan AS.

Kondisi serupa terjadi pada penundaan dialog antara Oman, Iran, serta jajaran negara-negara Teluk untuk membicarakan pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Presiden AS Donald Trump pada hari Senin, 14 September 2026 kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai. Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut dan menyatakan bahwa tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat mereka dipenuhi, terutama tuntutan agar AS mematuhi ketentuan gencatan senjata bulan Juni yang kini sudah tidak berlaku lagi," kata perwakilan dari sumbernya.

Melonjaknya angka Consumer Price Index (CPI) AS pada Agustus 2026 turut menyumbang sentimen negatif terhadap pergerakan rupiah, mengingat pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 89% untuk skenario kenaikan suku bunga, menanjak dari kisaran 59,4% pada pekan sebelumnya.

Terkini