JAKARTA - Pihak pemerintah secara resmi mematok sasaran target pertumbuhan ekonomi dalam level yang cukup tinggi guna menghadapi dinamika masa depan.
Laju perekonomian nasional diproyeksikan mampu menembus angka 7,5% pada tahun 2028 serta berlanjut mencapai level 8% pada tahun 2029.
"Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi menuju level 8 persen serta penurunan tingkat kemiskinan menuju angka 0 persen pada tahun 2029," tulis dari Sumbernya dalam dokumen Buku Nota Keuangan, Senin (24/8/2026).
Berdasarkan penjelasan resmi, terwujudnya struktur pertumbuhan ekonomi yang berkualitas sejatinya lahir dari perpaduan antara inovasi dan efisiensi, yang tercermin secara nyata dari peningkatan produktivitas total faktor.
Terdapat empat pilar intervensi strategis yang disiapkan, yakni: pertama, people, mencakup aspek peningkatan kualitas sumber daya manusia serta ketersediaan tenaga kerja yang terampil; kedua, process, merujuk pada efisiensi operasional dan percepatan adopsi pemanfaatan teknologi.
Ketiga, product, berfokus pada penciptaan nilai tambah produk yang lebih tinggi demi mendongkrak tingkat daya saing; serta keempat, policy, yakni penguatan kerangka regulasi yang pro-inovasi sekaligus memperbaiki kualitas iklim dunia usaha.
"Strategi pertumbuhan tersebut turut diperkuat melalui pengembangan sektor-sektor yang resilien serta memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi, dengan didukung oleh kebijakan fiskal yang kolaboratif, berkualitas, dan berkelanjutan," tulis dari Sumbernya.
Instrumen anggaran negara diposisikan berfungsi sebagai motor penggerak utama alias katalis dalam menstimulasi aktivitas perekonomian sekaligus mengoptimalkan keterlibatan sektor swasta, di samping tetap menjaga kesehatan dan kredibilitas fiskal secara konsisten.
Kolaborasi serta sinergi lintas sektor tersebut mencakup akselerasi roda sektor keuangan, penguatan basis sektor riil, dan terciptanya atmosfer investasi yang bersahabat.
Guna merealisasikan hal tersebut, pemerintah bertekad menggenjot arus penanaman modal lewat penguatan fungsi kelembagaan investasi nasional, salah satunya melalui Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia.
Wadah Danantara itu nantinya bakal dioperasionalkan sebagai platform strategis guna menyatukan aset-aset milik badan usaha milik negara, yang diyakini sanggup memikat masuknya modal investasi global demi menopang transformasi ekonomi serta pembangunan sektor-sektor prioritas.
Di sisi lain, Danantara sendiri telah menetapkan proyeksi penyaluran investasinya pada tahun 2026, yang mencakup pembiayaan program hilirisasi komoditas sumber daya alam, pengembangan sektor energi, hingga sektor industri bernilai tambah tinggi yang diandalkan untuk memperkokoh fondasi industri nasional.
Melalui sokongan kebijakan fiskal yang berfokus pada stabilitas, komitmen keberlanjutan reformasi struktural, serta pelibatan peran aktif investasi dan sektor swasta, prospek ekspansi ekonomi Indonesia di masa mendatang diyakini bakal tetap tangguh dalam mengakselerasi transformasi ekonomi secara menyeluruh.