BULETINFINANSIAL.COM — Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Agus Jamaludin, melaporkan ISPA menjadi masalah kesehatan paling banyak ditemukan pada penyintas gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Bencana ini berdampak pada 1,9 juta warga di Kabupaten Manggarai, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Ende, Ngada, dan Manggarai Timur.
"Yang paling banyak adalah ISPA ya, ada 9.668 tersebar di tujuh kabupaten," kata Agus dalam konferensi pers daring, Rabu (26/8/2026).
Daftar Lengkap Masalah Kesehatan Penyintas Gempa
Selain ISPA dan hipertensi, Kemenkes mencatat sejumlah keluhan lain yang dialami warga terdampak. Berikut rincian lengkapnya selama periode 15–25 Agustus 2026:
- ISPA: 9.668 kasus
- Hipertensi: 4.686 kasus
- Myalgia (nyeri otot): 1.017 kasus
- Trauma: 662 kasus
- Diare: 627 kasus
- Gastritis: 571 kasus
- Dispepsia: 487 kasus
- Diabetes: 392 kasus
- Penyakit kulit: 347 kasus
- Low back pain: 283 kasus
35 Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies Sudah Ditangani
Dalam periode yang sama, tercatat 35 kasus gigitan hewan penular rabies di tiga kabupaten, yakni Nagekeo, Ngada, dan Manggarai Timur. Agus memastikan seluruh korban gigitan telah mendapatkan vaksin.
"Dan, alhamdulillah sudah divaksin semua," tuturnya.
Dampak Gempa dan Penambahan Relawan Kesehatan
Hingga Rabu (26/8/2026), jumlah korban meninggal akibat gempa NTT mencapai 105 orang. Sementara itu, korban luka berat tercatat 385 orang dan luka ringan 1.287 orang.
Untuk memperkuat layanan kesehatan di lapangan, Kemenkes menerjunkan 206 relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) ke NTT pada Senin (24/8/2026). Mereka bertugas selama 14 hari di enam wilayah terdampak berat, yaitu Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Relawan yang diberangkatkan berjumlah 128 orang, terdiri dari dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, anak, bedah, dan ortopedi, serta perawat, bidan, dan tenaga farmasi. Mereka didukung oleh 78 dokter internsip yang sudah berada di Pulau Flores.
Kehadiran tenaga tambahan ini diharapkan mempercepat penanganan kesehatan para penyintas, terutama untuk mencegah meluasnya penyakit menular seperti ISPA dan diare di lokasi pengungsian.