PLN Indonesia Power Dan PGE Garap Proyek Pembangkit Panas Bumi 45 MW

Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:31 WIB
PT Pertamina Gothermal Energy (PGE) menambah satu Wilayah Kerja (WK) Geothermal (FOTO: NET)

JAKARTA - PLN Indonesia Power serta PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) meresmikan kesepakatan awal Letter of Intent (LoI) transaksi pembelian energi listrik dari dua instalasi panas bumi berdaya total 45 MW.

Langkah strategis ini dilaksanakan guna mengakselerasi penyerapan energi ramah lingkungan sekaligus mengokohkan ketahanan energi nasional.

Kemitraan tersebut meliputi penggarapan Ulubelu Binary Bottoming Unit berdaya 30 MW di Lampung serta Lahendong Binary Bottoming Unit berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara.

Pimpinan dari sumbernya mengungkapkan bahwa sinergi ini berorientasi mengonversi potensi energi geotermal dalam negeri menjadi pasokan listrik bersih yang stabil.

"Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang balances sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional," ujar dari sumbernya di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Sepasang proyek tersebut mengaplikasikan inovasi bottoming untuk mengolah sisa panas dari fluida geotermal (brine) yang belum terpakai pada unit eksisting agar menjadi daya listrik tambahan.

Metode ini memungkinkan perluasan daya pembuatan listrik di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) eksisting tanpa sepenuhnya bergantung pada pembukaan arena geotermal baru.

Melalui rincian skema kemitraan strategis itu, PLN Indonesia Power bersama PGE memproyeksikan potensi ekspansi kapasitas hingga menyentuh 230 MW.

Pihak dari sumbernya menilai bahwa koordinasi di antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pihak otoritas, penanam modal, hingga pemain industri merupakan elemen krusial untuk mempercepat penyerapan energi terbarukan.

"Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan," katanya.

Pejabat dari sumbernya menegaskan bahwasanya Indonesia mesti mengubah potensi geotermal menjadi pasokan listrik yang menghadirkan dampak ekonomi nyata bagi publik.

"Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang luar biasa besar. Namun, potensi itu tidak boleh hanya tersimpan di dalam bumi atau berhenti menjadi angka. Energinya harus kami hadirkan menjadi listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi, dan memperkuat kemandirian energi bangsa," ujar dari sumbernya.

Pihak dari sumbernya melengkapi bahwa otoritas memerlukan kemitraan solid bersama sektor swasta guna memacu realisasi proyek geotermal di Tanah Air.

Di momentum yang sama, pimpinan dari sumbernya memaparkan bahwasanya catatan histori pengembangan panas bumi nasional telah membuktikan ketahanan sumber daya ini dalam mengalirkan arus listrik secara konstan.

"Kamojang mengajarkan kami bahwa panas bumi bukan sekadar sumber energi, melainkan warisan energi yang terus hidup. Seratus tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri," ujar dari sumbernya.

Prosesi penandatanganan LoI tersebut diresmikan di dalam perhelatan Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 yang bertempat di Jakarta International Convention Center (JICC), serta dihadiri oleh jajaran pejabat negara dan pemangku kepentingan industri energi.

Lewat kemitraan ini, PLN Indonesia Power beserta PGE kian memperkuat optimasi sumber daya geotermal yang ada demi mengaliri pasokan daya bersih, menaikkan efisiensi fasilitas pembangkit, serta menopang kemandirian energi nasional.

Tags

Terkini