Ekspor Jerman ke China Turun 12 Persen Akibat Penurunan Pembelian

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:11:13 WIB
Ilustrasi China. ( SUMBER : NET )

BEIJING - Defisit perdagangan Jerman bersama China semakin melebar pada paruh pertama 2026.

Ekspor Jerman ke China merosot tajam, sementara impor dari negara tersebut justru naik.

Situasi ini memperlihatkan pergeseran relasi dagang kedua negara, dengan korporasi China semakin kuat menyuplai pasar Jerman.

Data awal Germany Trade & Invest (GTAI) memperlihatkan yang dilansir Reuters, Minggu (9/8/2026), memperlihatkan ekspor Jerman ke China merosot lebih dari 12 persen secara tahunan menjadi sedikit di bawah 37 miliar euro atau sekitar Rp761,7 triliun pada Januari sampai Juni 2026.

Kemerosotan tersebut menjadikan China sekadar menjadi pasar terbesar kesembilan bagi produk Jerman.

Posisi tersebut berubah drastis jika dibandingkan sejumlah tahun sebelumnya.

Pada 2021, China masih menjadi pasar ekspor terbesar kedua Jerman.

Pada masa itu, korporasi Jerman mengekspor barang senilai 104 miliar euro atau sekitar Rp2.141,2 triliun ke China.

Pada waktu yang bersamaan, impor Jerman dari China justru naik.

Nominalnya bertambah 8,9 persen menjadi 91,8 miliar euro atau sekitar Rp1.890,4 triliun pada paruh pertama 2026.

Kondisi tersebut menjadikan defisit perdagangan Jerman dengan China membengkak.

Defisit bertambah dari sekitar 40 miliar euro atau Rp823,5 triliun pada paruh pertama 2025 menjadi sekitar 55 miliar euro atau Rp1.132,4 triliun pada periode yang serupa tahun ini.

Total perdagangan kedua negara mencapai lebih dari 128 miliar euro atau sekitar Rp2.635,3 triliun.

Besaran nilai tersebut sekitar 3 miliar euro lebih tinggi dibanding total perdagangan Jerman dengan Amerika Serikat.

"Alasan penurunan ekspor ke Jerman adalah lemahnya ekonomi domestik serta meningkatnya fokus China pada rantai nilai domestik," ucap Corinne Abele, pakar Asia Timur di GTAI dari Sumbernya.

Berdasarkan Abele dari Sumbernya, pergeseran tersebut turut bersangkut paut dengan strategi korporasi Jerman yang semakin banyak memproduksi barang secara langsung di China.

Produksi di dalam China menekan kebutuhan korporasi guna mengirim barang dari Jerman ke pasar tersebut.

Krisis properti serta persoalan keuangan pemerintah daerah China turut menekan investasi domestik.

Hubungan Dagang Berubah Penurunan ekspor Jerman ke China memperlihatkan pergeseran dalam relasi ekonomi kedua negara.

China sekarang membeli lebih sedikit produk Jerman.

Sebaliknya, korporasi China semakin sanggup menyuplai barang ke pasar Jerman.

Bahkan, negara dengan ekonomi lebih kecil seperti Austria dan Swiss membeli lebih banyak produk Jerman dibanding China pada 2026.

Ekonom Commerzbank Vincent Stamer menilai dari Sumbernya kondisi tersebut memperlihatkan China semakin meredam ketergantungannya terhadap produk serta teknologi dari negara-negara Barat.

"Berkurangnya ketergantungan China terhadap Jerman menunjukkan bahwa negara tersebut semakin mandiri dari kekuatan Barat dan terus mengejar ketertinggalan di bidang teknologi," ujar Stamer dari Sumbernya.

Pergeseran tersebut timbul ketika industri manufaktur Jerman menghadapi tekanan dari pelbagai arah.

Korporasi Jerman harus menghadapi tarif Amerika Serikat sekaligus persaingan yang semakin kuat dari pabrikan China.

Tekanan tersebut paling terasa di sektor otomotif.

Pabrikan seperti Volkswagen telah menjalankan pemangkasan tenaga kerja dalam skala besar akibat lemahnya permintaan serta meningkatnya persaingan.

Relasi dagang Jerman dengan Amerika Serikat turut mengalami pergeseran.

China mengambil alih posisi sebagai mitra dagang terbesar Jerman pada 2025, sehabis Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali ke Gedung Putih dan memberlakukan kebijakan tarif yang menekan ekspor Jerman ke pasar AS.

Walaupun demikian, Amerika Serikat tetap menjadi pasar ekspor terbesar Jerman.

Ekspor Jerman ke AS merosot sekitar 6 persen hingga Juni 2026 menjadi sedikit di atas 74 miliar euro atau sekitar Rp1.523,5 triliun.

Sebaliknya, impor Jerman dari AS naik 7,1 persen menjadi hampir 51 miliar euro atau sekitar Rp1.049,9 triliun.

Prancis dan Belanda berada di posisi berikutnya sebagai pasar ekspor terbesar Jerman.

Secara keseluruhan, ekspor Jerman naik 3,7 persen menjadi 817 miliar euro atau sekitar Rp16.817,9 triliun hingga Juni 2026.

Pertumbuhan perdagangan global tetap membantu mendongkrak pesanan bagi korporasi Jerman.

Namun, kenaikan ekspor secara keseluruhan belum menghapus persoalan struktural yang dihadapi industri Jerman.

"Namun, merek 'Made in Germany' tetap harus melakukan pembaruan diri," ucap Stamer dari Sumbernya.

Tags

Terkini