JAKARTA - Pimpinan Utama Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyatakan tetap terdapat sektor industri yang mengalami pertumbuhan positif di tengah gejolak global yang lumayan tinggi. Walaupun begitu, laju pertumbuhannya harus dirawat untuk waktu mendatang.
Shinta membenarkan laju perekonomian yang menurun pada triwulan II-2026 sebesar 5,29 persen ikut terdampak oleh terhambatnya sektor usaha atas gejolak dunia. Namun begitu, beberapa sektor industri tetap memperoleh gambaran positif.
"Ini tidak berarti bahwa di sektor riil tidak ada industri yang ekspansi. Kami meyakini tetap ada, namun tidak banyak dan tidak menjadi tren industri yang mainstream, karena disrupsi-disrupsi yang terjadi di sisi demand pasar maupun di sisi komponen supply dan biaya produksi," terang Shinta lewat info resmi yang didapat dari Sumbernya, Senin (10/8/2026).
Dirinya memaparkan, keadaan tersebut dapat tercermin melalui PMI Manufaktur yang dikeluarkan S&P hingga Juli 2026. Angkanya memperlihatkan perolehan 50,2 poin atau berada di level ekspansi.
"Ini artinya, kalaupun ada pertumbuhan kondisi ekonomi di Q2, pertumbuhan tersebut sifatnya baru dan relatif fragile sehingga perlu dijaga momentumnya," tutur dia.
Maksudnya supaya laju perekonomian ke depannya mampu makin optimal serta mendorong kecenderungan dinamika sektor industri mendatang. Khususnya untuk bidang yang dulunya terimpit oleh efek global.
Menginginkan Lonjakan
Masa sebelumnya, Pimpinan Utama Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani memandang pencapaian bagus dari laju perekonomian Indonesia pada triwulan II-2026. Walau demikian, terdapat berbagai kendala yang dihadapi para pelaku usaha di masa itu.
Sebagaimana dipahami, perekonomian RI meningkat 5,29 persen pada triwulan II-2026 secara tahunan (year on year). Angka tersebut memperlihatkan penurunan dari laju triwulan I-2026 sebesar 5,61 persen. Shinta menginginkan tren kenaikan dapat terealisasi sampai penghujung 2026.
"Kami tentu mengapresiasi data capaian pertumbuhan Q2 2026 yang mencapai 5,29 persen yoy. Ini adalah capaian yang sangat positif dan perlu kami pastikan agar dapat bertahan, bahkan naik ke depannya hingga akhir tahun," ungkap Shinta lewat keterangan yang diterima dari Sumbernya, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Hambatan Sektor Usaha
Dia mengonfirmasi keberadaan pelambatan laju perekonomian domestik. Salah satunya terpantau dari hambatan pada dunia usaha di dalam negeri. Triwulan II-2026 dinilai menjadi masa yang lumayan sulit buat para pengusaha.
"Banyak industri yang mengalami cost-push inflation akibat imbas konflik di Selat Hormuz dan efek pelemahan nilai tukar terhadap peningkatan beban biaya produksi dan bahan baku impor," kata dia.
Dirinya menjabarkan, pergesekan Selat Hormuz utamanya berimbas pada lonjakan harga energi, contohnya bahan bakar minyak (BBM). Dalam waktu bersamaan, tarif pengiriman barang juga ikut terdampak.
Hambatan Permintaan Barang Ekspor Indonesia
Shinta turut melihat adanya kendala dari aspek permintaan ekspor bagi barang Indonesia. Pergesekan geopolitik lagi-lagi memberikan dampak bagi tingkat pembelian beberapa negara.
"Di Q2 sektor riil juga banyak yang mengalami tekanan permintaan ekspor dari berbagai negara rekan dagang Indonesia karena konflik geopolitik turut menyebabkan penurunan daya beli di sejumlah negara yang mengalami shock harga migas yang lebih dalam dibandingkan Indonesia," terang dia.
Permintaan ekspor pada triwulan II-2026 juga dikatakan terhambat akibat pemeriksaan perdagangan Amerika Serikat (AS) atas Indonesia. "Belum lagi, pasar domestik juga sempat mengalami perlambatan permintaan karena kenaikan harga BBM," ucapnya.
"Aktifitas ekonomi di sektor riil setidaknya yang dialami pelaku usaha sepanjang Q2 2026 cukup berat sehingga kurang mendukung adanya ekspansi kegiatan usaha," lanjut Shinta.