JAKARTA - Rencana pembatasan kadar nikotin maksimal 1 miligram per batang berpotensi berhadapan dengan karakter tembakau lokal Indonesia yang secara alami memiliki kadar nikotin lebih tinggi.
Kondisi tersebut memunculkan perhatian terhadap serapan hasil panen petani apabila standar baru diterapkan tanpa masa persiapan yang memadai.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat memiliki lebih dari 1.200 koleksi plasma nutfah tembakau lokal.
Dari koleksi tersebut, rata-rata kandungan nikotin alaminya berada di atas 2 persen.
Untuk menghasilkan tembakau berkadar nikotin lebih rendah, perubahan tidak hanya diperlukan pada proses di tingkat pabrik, tetapi juga pada produksi tanaman.
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN Setiari Marwanto mengatakan dari Sumbernya, penerapan batas nikotin secara terburu-buru berpotensi menimbulkan persoalan bagi keberlangsungan tembakau lokal karena karakter tanaman tidak dapat diubah dalam waktu singkat.
“Padahal kadar nikotin sendiri sangat dipengaruhi banyak faktor karena unsur utamanya berkaitan dengan nitrogen,” kata Setiari dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Menurut Setiari dari Sumbernya, kadar nikotin pada tanaman tembakau dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari penggunaan pupuk nitrogen, pemilihan varietas, hingga formulasi campuran yang digunakan di tingkat pabrik.
Dengan karakter tersebut, pencapaian kadar nikotin yang lebih rendah tidak hanya berkaitan dengan proses di hilir.
Penyesuaian juga diperlukan pada sisi produksi tanaman, sementara varietas tembakau lokal yang tersedia saat ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Risiko Tembakau Petani Tak Terserap Kondisi tembakau lokal menjadi perhatian BRIN karena hasil panen petani berpotensi tidak terserap industri apabila batas nikotin diterapkan tanpa masa persiapan yang memadai.
“Itu juga menjadi perhatian kami. Karena itulah dalam rapat koordinasi sebelumnya disepakati agar kebijakan yang bersentuhan langsung dengan tembakau petani ditunda terlebih dahulu sampai semuanya benar-benar dipastikan aman,” ujar Setiari dari Sumbernya.
Persoalannya, karakteristik setiap varietas tembakau turut dipengaruhi lingkungan tempat tanaman tumbuh.
Faktor tanah, ketinggian wilayah, cuaca, hingga mikroklimat dapat memengaruhi karakter tanaman dan kandungan nikotinnya.
Karena itu, menghasilkan varietas tembakau dengan kadar nikotin rendah membutuhkan proses penelitian.
Perubahan karakter tanaman juga harus dilakukan tanpa menghilangkan kemampuan varietas tersebut beradaptasi dengan lingkungan serta bertahan terhadap hama dan penyakit.
Ketua Kelompok Tanaman Semusim Direktorat Tanaman Semusim Kementerian Pertanian Yudi Wahyudi sebelumnya menyebut dari Sumbernya peneliti membutuhkan masa transisi panjang untuk menghasilkan varietas rendah nikotin yang sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia.
Menurut Yudi dari Sumbernya, sejumlah tembakau lokal, seperti Kemloko di Temanggung dan Mole di Jawa Barat, memiliki karakter yang terbentuk dari kondisi tanah dan lingkungan setempat.
Kandungan nikotinnya secara alami dapat berada pada kisaran 3 hingga 8 miligram per batang.
Pemuliaan Varietas Bisa Butuh 30 Tahun Proses menghasilkan varietas rendah nikotin tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Menurut Yudi dari Sumbernya, setiap generasi tanaman membutuhkan satu musim tanam penuh, sedangkan sifat rendah nikotin harus distabilkan tanpa mengurangi daya tahan tanaman terhadap hama lokal.
“Setiap generasi tanaman membutuhkan waktu satu musim tanam penuh. Untuk menstabilkan sifat rendah nikotin tanpa merusak daya tahan tanaman terhadap hama lokal, dibutuhkan puluhan generasi persilangan,” jelas Yudi dari Sumbernya.
Ia menilai dari Sumbernya masa transisi hingga 30 tahun diperlukan agar penelitian dan pemuliaan varietas dapat dilakukan secara bertahap.
Namun, periode tersebut belum menjadi jaminan bahwa satu varietas rendah nikotin dapat tumbuh dengan karakter seragam di seluruh wilayah Indonesia.
Hal itu berkaitan dengan konsep terroir pada tembakau, yakni hubungan antara karakter tanaman dengan kondisi tanah, ketinggian, cuaca, dan mikroklimat di wilayah budidayanya.
“Waktu 30 tahun pun secara ilmiah tidak bisa memberikan jaminan mutlak bahwa suatu varietas baru dapat tumbuh seragam di seluruh Indonesia,” kata Yudi dari Sumbernya.
“Hal itu mempertimbangkan sifat bawaan tembakau melekat pada konsep terroir yang terdiri dari kesesuaian tanah, ketinggian mdpl, cuaca, dan mikro-klimat setempat,” lanjut dia dari Sumbernya.
Dengan kondisi tersebut, BRIN menilai kebijakan pembatasan kadar nikotin perlu mempertimbangkan kesiapan di sisi hulu dan masa adaptasi yang memadai karena berkaitan dengan serapan hasil panen petani serta keberlangsungan varietas tembakau lokal di berbagai daerah.