BEIJING - Defisit perdagangan Jerman dengan China semakin melebar pada paruh pertama 2026.
Ekspor Jerman ke China turun tajam, sementara impor dari negara tersebut justru meningkat.
Kondisi ini menunjukkan perubahan hubungan dagang kedua negara, dengan perusahaan China semakin kuat memasok pasar Jerman.
Data awal Germany Trade & Invest (GTAI) menunjukkan yang dilansir Reuters, Minggu (9/8/2026), menunjukkan ekspor Jerman ke China turun lebih dari 12 persen secara tahunan menjadi sedikit di bawah 37 miliar euro atau sekitar Rp761,7 triliun pada Januari hingga Juni 2026.
Penurunan tersebut membuat China hanya menjadi pasar terbesar kesembilan bagi produk Jerman.
Posisi tersebut berubah drastis dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Pada 2021, China masih menjadi pasar ekspor terbesar kedua Jerman.
Saat itu, perusahaan Jerman mengekspor barang senilai 104 miliar euro atau sekitar Rp2.141,2 triliun ke China.
Pada saat yang sama, impor Jerman dari China justru meningkat.
Nilainya naik 8,9 persen menjadi 91,8 miliar euro atau sekitar Rp1.890,4 triliun pada paruh pertama 2026.
Kondisi tersebut membuat defisit perdagangan Jerman dengan China membengkak.
Defisit meningkat dari sekitar 40 miliar euro atau Rp823,5 triliun pada paruh pertama 2025 menjadi sekitar 55 miliar euro atau Rp1.132,4 triliun pada periode yang sama tahun ini.
Total perdagangan kedua negara mencapai lebih dari 128 miliar euro atau sekitar Rp2.635,3 triliun.
Nilai tersebut sekitar 3 miliar euro lebih tinggi dibandingkan total perdagangan Jerman dengan Amerika Serikat.
"Alasan penurunan ekspor ke Jerman adalah lemahnya ekonomi domestik serta meningkatnya fokus China pada rantai nilai domestik," ujar Corinne Abele, pakar Asia Timur di GTAI dari Sumbernya.
Menurut Abele dari Sumbernya, perubahan tersebut juga berkaitan dengan strategi perusahaan Jerman yang semakin banyak memproduksi barang secara langsung di China.
Produksi di dalam China mengurangi kebutuhan perusahaan untuk mengirim barang dari Jerman ke pasar tersebut.
Krisis properti dan persoalan keuangan pemerintah daerah China juga menekan investasi domestik.
Hubungan Dagang Berubah Penurunan ekspor Jerman ke China memperlihatkan perubahan dalam hubungan ekonomi kedua negara.
China kini membeli lebih sedikit produk Jerman.
Sebaliknya, perusahaan China semakin mampu memasok barang ke pasar Jerman.
Bahkan, negara dengan ekonomi lebih kecil seperti Austria dan Swiss membeli lebih banyak produk Jerman dibandingkan China pada 2026.
Ekonom Commerzbank Vincent Stamer menilai dari Sumbernya kondisi tersebut menunjukkan China semakin mengurangi ketergantungannya terhadap produk dan teknologi dari negara-negara Barat.
"Berkurangnya ketergantungan China terhadap Jerman menunjukkan bahwa negara tersebut semakin mandiri dari kekuatan Barat dan terus mengejar ketertinggalan di bidang teknologi," kata Stamer dari Sumbernya.
Perubahan tersebut terjadi ketika industri manufaktur Jerman menghadapi tekanan dari berbagai arah.
Perusahaan Jerman harus menghadapi tarif Amerika Serikat sekaligus persaingan yang semakin kuat dari produsen China.
Tekanan tersebut paling terasa di industri otomotif.
Produsen seperti Volkswagen telah melakukan pemangkasan lapangan kerja dalam skala besar akibat lemahnya permintaan dan meningkatnya persaingan.
Hubungan dagang Jerman dengan Amerika Serikat juga mengalami perubahan.
China mengambil alih posisi sebagai mitra dagang terbesar Jerman pada 2025, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali ke Gedung Putih dan menerapkan kebijakan tarif yang menekan ekspor Jerman ke pasar AS.
Meski demikian, Amerika Serikat masih menjadi pasar ekspor terbesar Jerman.
Ekspor Jerman ke AS turun sekitar 6 persen hingga Juni 2026 menjadi sedikit di atas 74 miliar euro atau sekitar Rp1.523,5 triliun.
Sebaliknya, impor Jerman dari AS meningkat 7,1 persen menjadi hampir 51 miliar euro atau sekitar Rp1.049,9 triliun.
Prancis dan Belanda berada di posisi berikutnya sebagai pasar ekspor terbesar Jerman.
Secara keseluruhan, ekspor Jerman meningkat 3,7 persen menjadi 817 miliar euro atau sekitar Rp16.817,9 triliun hingga Juni 2026.
Pertumbuhan perdagangan global masih membantu meningkatkan pesanan bagi perusahaan Jerman.
Namun, kenaikan ekspor secara keseluruhan belum menghapus persoalan struktural yang dihadapi industri Jerman.
"Namun, merek 'Made in Germany' tetap harus melakukan pembaruan diri," kata Stamer dari Sumbernya.