Gerak IHSG Diproyeksi Terbatas akibat Dampak Pelemahan Rupiah

Jumat, 29 Mei 2026 | 11:01:21 WIB
ILUSTRASI. ihsg : (NET).

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan diproyeksi bakal bergerak fluktuatif dalam rentang yang terbatas pada perdagangan akhir pekan ini.

Kondisi tersebut terjadi lantaran para pelaku pasar dinilai masih memantau pergerakan nilai tukar mata uang rupiah, aliran modal asing, hingga gejolak geopolitik dunia.

Pergerakan indeks saham pada hari ini diperkirakan berada dalam area yang cukup terbatas.

Laju indeks saham diproyeksi bergerak dengan batas penahan bawah pada rentang 5.950 sampai 6.000, serta batas penahan atas di area 6.200 hingga 6.286.

Para pelaku pasar dinilai masih memantau perkembangan nilai tukar mata uang rupiah, aliran modal asing, hingga gejolak geopolitik dunia.

Secara analisis teknikal, performa indeks saham mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan walaupun skalanya masih cukup terbatas.

Indikator Stochastic RSI memperlihatkan adanya peluang pembalikan arah menuju titik pivot, ditambah dengan penyempitan pada histogram MACD negatif.

Melalui indikator tersebut, indeks saham memiliki peluang untuk bergerak dalam kisaran antara 6.000 hingga 6.200.

Di sisi lain, penurunan nilai mata uang rupiah menjadi salah satu aspek krusial yang membayangi pergerakan indeks saham untuk jangka pendek.

“Depresiasi rupiah berpotensi menekan IHSG, meskipun sifatnya jangka pendek, dengan pergerakan indeks yang cenderung fluktuatif,” ujarnya.

Pelemahan mata uang rupiah tersebut dipicu oleh perpaduan sentimen luar negeri dan dalam negeri, termasuk penguatan mata uang dolar AS, situasi geopolitik, serta musim pemulangan dividen oleh pemodal luar negeri.

“Jika pelemahan rupiah berlangsung agresif, biasanya diikuti oleh aksi jual bersih investor asing,” katanya.

Deretan saham pada sektor perbankan dengan nilai kapitalisasi besar berpeluang menjadi beban utama bagi indeks saham, mengingat porsinya yang sangat dominan.

“Namun demikian, fundamental perbankan domestik masih solid, dengan margin bunga bersih dan permodalan yang tetap kuat,” imbuhnya.

Mengenai langkah investasi, para pemodal diimbau untuk bertindak lebih selektif serta mengutamakan pengelolaan risiko yang matang.

“Fokus pada emiten berbasis ekspor, energi, serta saham defensif yang tidak bergantung pada bahan baku impor,” jelasnya.

Sebagai informasi, indeks saham mendarat di zona merah pada penutupan perdagangan sebelumnya akibat lonjakan tekanan dari luar negeri serta maraknya aksi ambil untung sebelum memasuki masa libur.

Merujuk pada data otoritas bursa, indeks saham terkoreksi sebesar 1,23% ke posisi 6.130,19 setelah sempat bergerak menguat pada awal perdagangan.

Penyusutan performa indeks tersebut dipicu oleh maraknya aksi ambil untung oleh pemodal bersamaan dengan momentum penataan ulang bobot indeks MSCI.

Terkini