JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada perdagangan 26 Mei 2026 ditutup melemah sebesar 1,23 persen atau mengalami penurunan 76,15 poin ke level 6.130.
Kondisi IHSG yang kembali menunjukkan koreksi ini berjalan selaras dengan adanya aksi jual bersih atau outflow oleh investor asing di pasar reguler yang mencapai Rp1,89 triliun.
Pelemahan pada pergerakan IHSG tersebut juga sejalan dengan kondisi mata uang rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.900 per dolar AS di pasar spot pada 28 Mei 2026 atau mengalami depresiasi sebesar 7 persen sejak awal tahun.
Langkah kenaikan suku bunga BI-Rate sebesar 50 bps yang dilakukan pada Mei 2026 terpantau belum cukup kuat untuk menarik kembali aliran dana asing masuk ke dalam instrumen keuangan domestik.
Sebagai gambaran situasi, imbal hasil atau yield SRBI saat ini telah merangkak naik ke kisaran angka 6,52 persen sampai 6,78 persen, sedangkan TD Valas DHE mengalami kenaikan ke level 3,9 persen hingga 4,17 persen.
Di sisi lain, pergerakan pasar pada akhir pekan ini tepatnya 29 Mei 2026 tengah mencermati tanggal efektif MSCI pada 1 Juni 2026 mendatang.
Setelah momentum tersebut, pada 18 Juni 2026 pihak MSCI akan melanjutkan proses evaluasi terhadap kondisi pasar modal di Indonesia guna keperluan penataan ulang portofolio atau rebalancing berikutnya yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026.
Pasar juga sedang menantikan hasil klasifikasi status negara pada 23 Juni 2026 yang akan memperlihatkan apakah posisi Indonesia masih bertahan sebagai emerging market atau justru turun kelas menjadi frontier market.
Sementara dari perkembangan global, bursa saham Wall Street terpantau kompak mengalami penguatan sebagai respons positif atas munculnya potensi perpanjangan masa gencatan senjata antara AS dan Iran selama 60 hari.
Adanya aksi gencatan senjata tersebut turut menekan harga komoditas minyak mentah jenis Brent sebesar 9,49 persen dalam sepekan, yang sekaligus melanjutkan tren koreksi pada minggu sebelumnya sebesar 5,24 persen menuju level USD93,71 per barel.
Pada periode April 2026, tingkat inflasi PCE di AS secara tahunan berada di angka 3,8 persen, atau mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,5 persen, namun hasil ini masih sesuai dengan prediksi konsensus akibat lonjakan harga energi.
Selaras dengan tren reli yang terjadi di bursa Wall Street, indeks saham Nikkei 225 ikut menguat sebesar 1,97 persen serta indeks KOSPI naik 1,90 persen secara intraday.
Pergerakan IHSG untuk hari ini diproyeksikan akan bergerak secara bervariasi atau fluktuatif dalam rentang angka 6.050 hingga 6.250.
Berikut adalah rincian rekomendasi untuk beberapa saham pilihan pada hari ini, 29 Mei 2026:
Saham PGAS (Speculative Buy)
Harga Penutupan: 1,895
Target Harga: 1,930 – 1,965
Batas Penurunan Risiko: kurang dari 1,825
Pergerakan saham PGAS saat ini berada di sekitar area support 1,860 yang menjadi sebuah tingkatan penting untuk menjaga tren positif dalam jangka pendek.
Selama pergerakan harganya mampu bertahan di atas zona tersebut serta tidak mengalami penurunan hingga menembus ke bawah angka 1,825, maka peluang untuk terjadinya pembalikan arah secara teknikal menuju kisaran 1,930–1,965 masih terbuka luas.
Kondisi pergerakan harga saham ini juga memperlihatkan adanya sebuah potensi rebound setelah tekanan aksi jual dari para pelaku pasar mulai terlihat mereda.
Saham TLKM (Speculative Buy)
Harga Penutupan: 3,090
Target Harga: 3,150 – 3,210
Batas Penurunan Risiko: kurang dari 2,970
Saham TLKM terpantau tengah menguji zona support di level 3,030 yang menjadi sebuah area kunci untuk menahan laju tekanan jual.
Selama posisi harga saham tidak merosot hingga di bawah kisaran 2,970, maka peluang terjadinya rebound dalam jangka pendek masih terbuka dengan potensi penguatan menuju area 3,150–3,210.
Saham ini dinilai masih cukup menarik untuk terus dipantau seiring dengan adanya potensi perbaikan pada momentum teknikal dalam waktu dekat.
Saham WIIM (Speculative Buy)
Harga Penutupan: 1,760
Target Harga: 1,795 – 1,830
Batas Penurunan Risiko: kurang dari 1,690
Posisi saham WIIM kini sedang berada pada area support 1,725 yang menjadi suatu tingkatan krusial dalam menjaga stabilitas pergerakan harga jangka pendek.
Selama nilai saham mampu bertahan di atas wilayah tersebut dan tidak merosot ke bawah angka 1,690, maka peluang penguatan harga menuju rentang 1,795–1,830 dinilai tetap terbuka.
Potensi untuk terjadinya pembalikan arah secara teknikal juga sudah mulai nampak sejalan dengan kondisi tekanan jual yang kian terbatas.