Rupiah Hari ini Diprediksi Melemah Akibat Konflik Iran dan Dolar AS

Kamis, 21 Mei 2026 | 11:08:47 WIB
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026.

Meskipun bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif dan pidato ekonomi mendapat respons positif, tekanan eksternal global dinilai masih membayangi.

Pergerakan mata uang rupiah hari ini diproyeksikan akan fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang nominal Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS.

Proyeksi tersebut muncul setelah rupiah sempat ditutup menguat 52 poin ke level Rp17.653 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp17.703.

Pasar internasional saat ini masih menempatkan konflik di Timur Tengah sebagai salah satu sumber ketidakpastian terbesar bagi pergerakan instrumen keuangan.

Kontradiksi pernyataan politik global membuat pasar tetap berhitung terhadap risiko inflasi global baru yang dipicu gangguan besar pasokan energi akibat perang.

Kondisi tersebut membuat harga minyak mentah dunia bertahan tinggi dan berisiko menambah beban inflasi global dalam beberapa waktu ke depan.

Pelaku pasar kini mulai menghitung kemungkinan bank sentral utama dunia untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi mereka dalam jangka waktu lebih lama.

Jika ekspektasi tersebut terus bertahan, mata uang dolar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen terbesar datang dari keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Kenaikan tersebut resmi mengakhiri periode delapan bulan berturut-turut ketika bank sentral mempertahankan suku bunga di level yang sama.

Berikut merupakan rincian performa instrumen suku bunga acuan yang ditetapkan terbaru:

Suku bunga acuan utama kini berada pada angka 5,25 persen.

Suku bunga Deposit Facility mengalami penyesuaian naik menjadi 4,25 persen.

Suku bunga Lending Facility dipatok berada di level 6,25 persen.

Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta meredam tekanan global akibat kecamuk perang di Timur Tengah.

Kebijakan ini juga diarahkan untuk menjaga target inflasi periode 2026-2027 agar tetap berada di sasaran target sebesar 2,5 ± 1 persen.

Pasar juga sempat merespons positif pidato kepemimpinan nasional di DPR RI yang memaparkan arah target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8-6,5 persen.

Ditetapkan juga target kurs rupiah untuk tahun depan berada pada rentang antara nominal Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Dalam pidatonya, komitmen untuk menjaga disiplin anggaran negara dengan memperkecil defisit ditegaskan secara terbuka di hadapan para anggota dewan.

"Kami akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit," kata Prabowo.

Namun, target kurs tersebut juga menunjukkan bahwa pihak pemerintah belum sepenuhnya memperkirakan penguatan signifikan rupiah dalam jangka pendek.

Saat ini arah pergerakan kurs nasional berada di persimpangan antara pengetatan moneter domestik dan bayang-bayang risiko ketidakpastian pasar global.

Terkini