JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah yang terus mengalami penurunan memicu spekulasi kuat bahwa Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Langkah intervensi melalui Rapat Dewan Gubernur ini diproyeksikan untuk menahan tekanan mata uang domestik di tengah gejolak geopolitik global.
Kondisi pasar keuangan di dalam negeri saat ini sedang dibayangi kekhawatiran setelah kurs rupiah sempat menembus kisaran Rp17.700-an per dolar AS. Selain faktor tekanan eksternal, penurunan cadangan devisa nasional yang signifikan turut mempersempit ruang pelonggaran moneter domestik.
Data ekonomi terkini menunjukkan cadangan devisa Indonesia menyusut dari 156,47 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025 menjadi 146,20 miliar dolar AS per akhir April. Menanggapi situasi tersebut, situasi kebijakan yang mungkin diambil oleh otoritas moneter kini menjadi perhatian utama.
“Secara historis, kondisi penurunan cadangan devisa signifikan dapat memberi tekanan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga,” jelasnya melalui keterangan tertulis pada Rabu (20/5/2026).
Pelemahan mata uang Garuda turut dipengaruhi oleh persepsi pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi dalam negeri serta tingginya permintaan musiman dolar AS di kuartal kedua. Guna meredam volatilitas, BI sebelumnya telah mengintervensi pasar valuta asing.
Otoritas moneter terpantau sudah menaikkan imbal hasil SRBI 12-bulan ke level 6,5 persen di awal Mei, serta meningkatkan repo rate menjadi 5,1 persen. Di sisi lain, pergerakan nilai tukar yang fluktuatif ini juga memicu reaksi dari pasar modal.
Momentum rapat Dewan Gubernur BI pekan ini dipandang sangat krusial oleh para pelaku pasar komoditas dan saham. Fluktuasi kurs mata uang domestik menjadi indikator utama yang terus dipantau secara ketat dalam beberapa hari terakhir.
“Melemahnya rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026,” paparnya.
Kebijakan penyesuaian suku bunga acuan tersebut dinilai merupakan bentuk intervensi nyata dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Tekanan global yang terus meningkat memaksa otoritas mengambil langkah tegas demi melindungi instrumen keuangan domestik.
“Hal ini dilakukan demi mengintervensi pelemahan rupiah, dan bila direspons positif bisa menahan kejatuhan indeks lebih dalam,” bebernya.
Depresiasi rupiah yang tajam dinilai mencerminkan kenaikan persepsi risiko investor terhadap pasar aset di Indonesia. Dampak penurunan nilai mata uang ini turut menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang saat ini masih berada dalam tren volatil.
“Market cenderung merespons pergerakan rupiah yang cenderung terdepresiasi tajam hingga menembus kisaran Rp17.668-Rp17.681 per dolar AS. Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia,” tuturnya.