Rupiah Tembus Rp17.614 per Dolar AS dan Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

Senin, 18 Mei 2026 | 17:56:44 WIB
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

MALANG - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke kisaran Rp17.592 sampai Rp17.614 per dolar AS saat penutupan pekan perdagangan di pertengahan Mei 2026. Angka tersebut resmi memecahkan rekor sebagai titik paling rendah sepanjang sejarah berjalan.

Penurunan drastis nilai mata uang Garuda pada pasar spot internasional ini terjadi karena adanya guncangan eksternal. Faktor utamanya adalah kenaikan ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah, melambungnya harga minyak mentah dunia, serta kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS (The Fed) yang memicu perpindahan modal keluar secara besar-besaran.

Sebagai langkah untuk meminimalkan efek inflasi akibat impor tersebut, Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Keuangan yang dipimpin Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa segera mengeksekusi tujuh taktik intervensi pasar.

Langkah ini juga mencakup upaya stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN) untuk memproteksi fundamental APBN 2026 agar posisinya tetap aman serta terkontrol, seperti yang telah dikonfirmasi oleh Presiden Prabowo Subianto.

Untuk para pelaku usaha ekspor-impor serta pelaku pasar modal, di bawah ini merupakan ringkasan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing utama:

Dolar Amerika Serikat (USD): Rp17.592 – Rp17.614 (Kurs Spot Wise / Internasional)

Euro Eropa (EUR): Rp20.452 (Transaksi Pasar Spot Global)

Ringgit Malaysia (MYR): Rp4.452 (Kurs Regional ASEAN)

Sementara itu, bagi para nasabah yang berencana melakukan konversi atau penukaran uang tunai asing (Bank Notes) melalui perbankan dalam negeri, berikut ini adalah nominal acuan resmi yang dirilis oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk:

Kurs Beli USD: Rp17.330 (Bank menerima dolar dari nasabah)

Kurs Jual USD: Rp17.630 (Bank menjual dolar ke nasabah)

Para pengamat ekonomi menjabarkan ada tiga perpaduan faktor makro yang memberi tekanan sangat berat terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri:

Ketegangan Geopolitik Global: Krisis bersenjata yang kian melebar di Timur Tengah menimbulkan kecemasan global, sehingga para investor internasional mengalihkan dana mereka ke instrumen lindung nilai (safe-haven) contohnya Dolar AS.

Lonjakan Impor Energi: Meroketnya harga minyak mentah dunia membuat Indonesia harus mengeluarkan dana yang jauh lebih besar guna mencukupi biaya impor bahan bakar minyak (BBM), sehingga memicu defisit pada neraca perdagangan.

Kebijakan Siklus The Fed: Keputusan bank sentral Amerika Serikat yang tetap mempertahankan suku bunga di level tinggi menjadikan instrumen investasi di AS tampak jauh lebih memikat, yang pada akhirnya memicu aksi penarikan modal secara masif dari pasar keuangan dalam negeri.

Terkini