JAKARTA - Kondisi daya beli masyarakat di tanah air dinilai masih berada dalam posisi yang aman dan terjaga hingga akhir April 2026. Situasi positif ini dibuktikan oleh adanya kenaikan yang amat tinggi di sektor penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Peningkatan pada pajak konsumsi tersebut tercatat tumbuh sebesar 40,2 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu, di mana total nilai yang berhasil dikumpulkan menyentuh angka Rp221,2 triliun.
"Peningkatan PPN dan PPnBM ini mencerminkan masyarakat masih memiliki daya beli," ujarnya.
Meningkatnya realisasi pengumpulan pajak tersebut sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa perputaran roda ekonomi di dalam negeri masih berjalan dengan sangat tangguh.
"PPN dan PPnBM yang naik 40,2% mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi masih tinggi. Ini semua mematahkan tuduhan bahwa ekonomi kami melambat," tegasnya.
Bukan hanya dari lini perpajakan saja, sinyal kebangkitan ekonomi nasional juga tampak gamblang lewat kenaikan angka penjualan kendaraan bermotor pasca-momen libur Lebaran.
Data menunjukkan angka penjualan sepeda motor sukses tumbuh sebesar 28,1 persen, sedangkan untuk sektor penjualan mobil mengalami lonjakan drastis hingga mencapai 55 persen sepanjang April 2026.
Apabila dihitung secara keseluruhan, postur anggaran pendapatan negara dalam APBN hingga akhir April 2026 telah mengumpulkan dana sebesar Rp918,4 triliun.
Pada sektor pengeluaran, realisasi belanja negara justru bergerak dengan akselerasi yang jauh lebih pesat, yakni meroket 34,3 persen hingga menyentuh total Rp1.082,8 triliun.
"Belanja negara lebih cepat (tumbuh 34,3 persen). Defisit terkendali.APBN terus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi" tuturnya.
Meski arus pengeluaran atau belanja negara berjalan dengan sangat cepat, besaran angka defisit anggaran dipastikan tetap berada pada batas koridor yang aman.
"Angka defisit pada April 2026 menurun menjadi 0,64% dibandingkan pada Maret 2026 yang sebesar 0,93%," jelasnya.
Catatan positif pendapatan negara ini juga ikut ditopang oleh pertumbuhan sektor penerimaan cukai yang naik 2,2 persen ke angka Rp74,8 triliun, seiring meningkatnya volume produksi rokok di sepanjang kuartal pertama tahun 2026.
Di samping itu, tren kenaikan pada sektor bea masuk yang dipicu oleh kegiatan impor komoditas LPG turut andil dalam memberikan sumbangan pendapatan negara.
Indikator Ekonomi April 2026:
Penerimaan PPN dan PPnBM:
Periode: Januari hingga April 2026
Pertumbuhan (yoy): Naik 40,2 persen
Keterangan Nilai: Mencapai Rp221,2 triliun
Penjualan Sepeda Motor:
Periode: April 2026
Pertumbuhan (yoy): Naik 28,1 persen
Keterangan Pembanding: Pada Maret 2026 sempat minus 17,1 persen
Penjualan Mobil:
Periode: April 2026
Pertumbuhan (yoy): Naik 55 persen
Keterangan Pembanding: Pada Maret 2026 sempat minus 13,8 persen