Rupiah Terdepresiasi 5 Persen Terhadap Dolar AS Hingga Mei 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 15:38:15 WIB
ILUSTRASI. tukar rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau mengalami pelemahan hingga berada di angka Rp17.400 pada transaksi Selasa, 12 Mei 2026.

Pergerakan ini memperlihatkan tren negatif mata uang Garuda yang kian mendekati level terendah sepanjang sejarah berdasarkan data perdagangan paling baru.

Jika merujuk pada data pasar spot pagi ini, rupiah mencatatkan koreksi sebesar 1,82 persen dalam jangka waktu satu bulan ke belakang.

Secara akumulatif sampai Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat sudah terdepresiasi sebanyak 5,00 persen terhadap dolar Amerika Serikat atau greenback.

Bank Indonesia senantiasa mengawasi fluktuasi tersebut lewat mekanisme Kurs Transaksi yang meliputi 25 mata uang asing utama di pasar finansial.

Publik sering kali menanyakan alasan rupiah melemah terhadap dollar di tengah kondisi ekonomi nasional yang sebenarnya tergolong cukup stabil akhir-akhir ini.

Pelemahan nilai rupiah saat ini disebabkan oleh gabungan faktor internal serta tekanan luar negeri. Cadangan devisa dilaporkan menyusut empat bulan beruntun hingga April 2026.

Pada sisi lain, indikator ekonomi Amerika Serikat memberikan beban berat usai tingkat inflasi di negara tersebut meningkat jadi 3,30 persen pada Maret 2026.

Situasi ini memperkokoh posisi dolar AS karena adanya ekspektasi kebijakan moneter yang ketat. Merosotnya cadangan devisa membatasi ruang intervensi bagi Bank Indonesia.

Kondisi itu memicu kerentanan rupiah terhadap aksi jual oleh investor asing yang tengah melakukan penyesuaian portofolio pada pasar keuangan domestik.

Selain pada dolar AS, dinamika rupiah turut menjadi perhatian pekerja migran di Jepang yang menanyakan harga 1 yen berapa rupiah sekarang.

Bagi pengusaha, memahami cara hitung kurs bank indonesia menjadi hal krusial untuk menetapkan harga pokok penjualan bagi produk-produk hasil impor.

Umumnya, penghitungan memakai nilai tengah antara harga jual dan harga beli dari pihak otoritas demi menjaga transparansi dalam nilai transaksi.

Walaupun rupiah sedang tertekan, indikator makroekonomi tanah air pada April 2026 memperlihatkan performa stabil dengan inflasi domestik di level 2,42 persen.

Bidang ketenagakerjaan pun membaik dengan angka pengangguran yang turun ke 4,68 persen pada Maret 2026 sekalipun suku bunga masih bertahan tinggi.

Analis terus memantau dampak dollar naik bagi masyarakat, khususnya pada harga komoditas pangan impor dan barang elektronik akibat naiknya biaya logistik dunia.

Kebijakan pemerintah serta Bank Indonesia ke depan akan bersandar pada rilis data ekonomi global berikutnya guna menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas valas.

Terkini