IHSG Berpotensi Volatil Menjelang Pengumuman Indeks MSCI Mei 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 15:38:15 WIB
ILUSTRASI. ihsg (FOTO: NET)

JAKARTA - Pelaku pasar saham di Indonesia saat ini tengah mewaspadai potensi gejolak baru pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini berkaitan erat dengan rencana pengumuman tinjauan berkala indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 12 Mei 2026.

Berdasarkan data pasar, kekhawatiran muncul karena adanya kemungkinan pengurangan bobot investasi untuk Indonesia. Selain itu, terdapat potensi penghapusan sejumlah saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari daftar indeks internasional tersebut.

Liza Camelia selaku Head of Research Kiwoom Sekuritas menjelaskan bahwa investor asing sebenarnya telah mengantisipasi kabar negatif ini. Aksi jual saham oleh pihak asing dilaporkan sudah mulai terjadi sejak beberapa pekan terakhir.

“Menurut kami, asing sudah jualan dari kemarin-kemarin. Jadi mungkin besok masih volatil, tapi kalau besar-besaran sampai di bawah 6.800 kayaknya enggak,” ujar Liza pada Senin 11 Mei 2026.

Liza memaparkan bahwa penurunan persepsi investor global tidak hanya disebabkan oleh potensi keluarnya emiten tertentu seperti BREN dan DSSA. Sentimen ini juga dipengaruhi oleh pengurangan porsi investasi pada saham-saham Indonesia lainnya.

“Yang menjadi concern itu saham-saham lain yang juga di-underweight. Jadi di indeks MSCI itu kan saham Indonesia bukan cuma BREN dan DSSA, ada saham lain juga yang porsinya dikurangi,” lanjut Liza.

Minimnya sentimen positif tambahan diprediksi akan menyulitkan aliran modal asing untuk masuk ke pasar modal dalam negeri secara masif. Kondisi ini diperkirakan masih akan bertahan dalam periode jangka pendek.

“Sayangnya, katalis yang berkembang sekarang semuanya negatif. Jadi agak sulit berharap asing masuk lagi ke Indonesia dalam jangka pendek,” kata Liza.

Terkait adanya transaksi besar senilai Rp12 triliun, Liza memberikan klarifikasi bahwa dana tersebut berasal dari transaksi negosiasi aksi korporasi PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI). Transaksi ini bukan merupakan aliran dana masuk murni di pasar reguler.

Liza menekankan agar para pemodal tetap berhati-hati pada level psikologis IHSG di posisi 6.800. Jika angka tersebut berhasil ditembus ke bawah, maka tekanan jual diperkirakan akan semakin kuat di pasar saham.

“Kalau di bawah 6.800, alarmnya sudah nyala banget,” tutur Liza.

Meski ditekan oleh nilai tukar rupiah yang melampaui Rp17.400 dan kenaikan harga minyak, beberapa saham perbankan serta TPIA dinilai masih menarik. Ada harapan pada kebijakan bea keluar plastik untuk mendorong performa emiten terkait.

“Kalau memang bea keluar plastik jadi 0 persen, mungkin bisa jadi momentum untuk TPIA. Tapi problemnya bercampur dengan sentimen MSCI,” ucap Liza.

Kiwoom Sekuritas kini menetapkan revisi target IHSG untuk kuartal II 2026 pada level 7.300. Pihaknya akan terus memantau perkembangan stabilitas fiskal nasional serta dinamika ketegangan geopolitik dunia.

Terkini