Pemerintah Impor 100.000 Sapi Brasil Bangun Ekosistem Peternakan

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:45:04 WIB
Pemerintah Impor 100.000 Sapi Brasil Bangun Ekosistem Peternakan

JAKARTA - Upaya memperkuat kemandirian pangan nasional kini diarahkan pada pembenahan sektor peternakan sapi dari hulu hingga hilir. 

Pemerintah menyiapkan langkah strategis dengan mendatangkan puluhan ribu sapi dari luar negeri untuk mengisi dan mempercepat pembangunan ekosistem peternakan dalam negeri. 

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari rencana besar penyediaan kebutuhan daging dan susu nasional, termasuk untuk mendukung program prioritas pemerintah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut pemerintah bakal mengimpor 50.000 ekor sapi dari Brasil untuk mengisi ekosistem peternakan sapi.

“Yang jelas Brasil sudah ada datang dari Brasil untuk sapi ya. Rencananya 50.000 sampai 100.000 ekor,” ujar Amran.

Amran tidak menjelaskan sapi yang diimpor untuk keperluan produksi susu atau pemotongan daging. Ia hanya menyebut sebagian sapi dari Brasil itu sudah tiba di tanah air.

Selain dari Brasil, pemerintah juga bakal mengimpor sapi dari berbagai negara guna memastikan kebutuhan populasi awal dalam pengembangan peternakan terpenuhi.

Ekosistem Dibangun di Lima Titik

Menurut Amran, ekosistem peternakan sapi akan dibangun di lima titik lokasi berbeda. Salah satu lokasi yang telah mulai berjalan adalah Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Sudah bergerak, sudah groundbreaking. Sudah, lima tempat. Di NTB,” kata Amran.

Pada kesempatan sebelumnya, Amran menyebut pemerintah juga akan membuka peternakan sapi di Ponorogo, Jawa Timur dan Indramayu, Jawa Barat. Kedua peternakan itu bakal memelihara dan mengelola 67.000 ekor sapi, sebagian di antaranya merupakan sapi perah.

Proyek pengembangan peternakan ini menggunakan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi Danantara.

“Satu paket itu, dari hulu ke hilir itu Rp 2,4 triliun,” tutur Amran.

Konsep pembangunan dilakukan secara terintegrasi. Peternakan tidak hanya menghadirkan kandang dan populasi sapi, tetapi juga mengintegrasikan pabrik pakan, pengelolaan limbah, hingga penyediaan lahan rumput sebagai sumber pakan utama.

“Pakannya disiapkan, ada sapi kan, sapi perah,” ujar Amran.

Pendekatan integratif tersebut dimaksudkan agar rantai produksi berjalan efisien, mulai dari penyediaan pakan hingga distribusi hasil ternak. Dengan sistem terintegrasi, pemerintah berharap ketergantungan pada impor produk jadi dapat ditekan secara bertahap.

Tindak Lanjut Arahan Presiden

Proyek pembangunan peternakan sapi ini berawal dari perintah Presiden Prabowo Subianto kepada jajaran menterinya untuk memenuhi kebutuhan susu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Prabowo menyampaikan arahan tersebut dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 11 November lalu. Program MBG menuntut ketersediaan bahan baku susu dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah merencanakan pembangunan peternakan di atas lahan seluas 500.000 hektar dengan target produksi mencapai 3 juta liter susu per hari. Skala tersebut menunjukkan ambisi besar dalam membangun basis produksi susu nasional yang kuat.

Impor sapi dari Brasil dan negara lainnya diposisikan sebagai langkah awal untuk mempercepat pengisian populasi. Dengan populasi awal yang memadai, produksi susu dan daging diharapkan bisa meningkat secara signifikan dalam waktu relatif cepat.

Impor Sebagai Pengungkit Awal

Meski impor kerap menjadi perdebatan, dalam konteks ini langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi pengungkit awal. Pemerintah tidak hanya mendatangkan sapi, tetapi sekaligus membangun infrastruktur pendukungnya.

Amran tidak merinci jenis sapi yang diimpor, apakah fokus pada sapi perah untuk produksi susu atau sapi potong untuk kebutuhan daging. Namun ia memastikan rencana impor berkisar antara 50.000 hingga 100.000 ekor.

Sebagian sapi dari Brasil bahkan telah tiba di Indonesia. Hal ini menunjukkan proses pengadaan telah berjalan dan tidak sekadar wacana.

Dengan populasi tambahan tersebut, proyek peternakan di NTB, Ponorogo, dan Indramayu diharapkan bisa segera beroperasi optimal. Target pengelolaan 67.000 ekor sapi di dua lokasi di Pulau Jawa menjadi bagian penting dalam ekosistem yang lebih luas.

Integrasi Hulu-Hilir

Skema “satu paket” yang disebut Amran menandakan proyek ini dirancang menyeluruh. Nilai investasi Rp2,4 triliun mencakup pembangunan kandang, pabrik pakan, fasilitas pengolahan, hingga lahan hijauan makanan ternak.

Integrasi hulu-hilir dianggap penting untuk menjamin keberlanjutan produksi. Tanpa sistem yang terpadu, peningkatan populasi sapi berisiko tidak diimbangi dengan ketersediaan pakan atau sarana pengolahan hasil.

Dengan model tersebut, pemerintah berharap tercipta ekosistem peternakan modern yang mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan domestik secara berkelanjutan.

Langkah impor sapi dari Brasil menjadi bagian dari strategi percepatan. Di saat yang sama, pembangunan lima kawasan peternakan besar menunjukkan arah kebijakan yang tidak semata berorientasi jangka pendek.

Jika target 3 juta liter susu per hari tercapai, maka program MBG dan kebutuhan konsumsi susu nasional berpotensi dipenuhi dari produksi dalam negeri. Kombinasi antara impor populasi awal, investasi besar, serta integrasi sistem menjadi fondasi kebijakan ini.

Dengan rencana pengembangan di lahan 500.000 hektar, pemerintah menempatkan sektor peternakan sebagai salah satu prioritas strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Terkini