BULETINFINANSIAL.COM — Data pekerjaan Amerika Serikat yang keluar di bawah ekspektasi membuat mata uang dolar tertekan di sejumlah pasar Asia. Rupiah menunggangi momentum tersebut dan mencatatkan penguatan sejak awal sesi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.697 per dolar AS. Angka itu naik 18 poin atau 0,10 persen dibanding hari sebelumnya yang ada di Rp17.733 per dolar AS.
Apa yang Membuat Rupiah Bangkit?
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah tidak lepas dari koreksi dolar AS. Pemicunya adalah data ketenagakerjaan Amerika yang dirilis lemah.
"Rupiah menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data pekerjaan di AS - yang lebih lemah. Range rupiah hingga sore ini bergerak Rp17.650-Rp17.800," kata Lukman saat dihubungi Suara.com.
Namun, ruang penguatan rupiah disebut masih terbatas. Konflik Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang masih bertahan tinggi bisa menjadi penghambat pergerakan lebih jauh.
Ringgit hingga Yuan Ikut Menguat
Rupiah tidak sendirian pada pagi ini. Mayoritas mata uang di kawasan Asia berhasil menekan dolar AS.
Ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,19 persen. Baht Thailand menyusul dengan apresiasi 0,18 persen, lalu yen Jepang menguat 0,14 persen dan dolar Taiwan naik 0,07 persen.
Peso Filipina tumbuh 0,04 persen. Yuan China serta dolar Singapura juga ikut naik masing-masing 0,03 persen dan 0,02 persen, meski tipis.
Sepanjang sesi, pergerakan rupiah masih akan ditentukan oleh situasi geopolitik dan laju harga minyak mentah. Jika ketegangan mereda, bukan tidak mungkin posisi Rp17.697 masih bisa bergerak lebih rendah.